Maybe A Promise

Maybe A Promise

  • WpView
    MGA BUMASA 6
  • WpVote
    Mga Boto 1
  • WpPart
    Mga Parte 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Mon, Jul 8, 2024
WpInfo
NON-FICTION
Dengan air mata masih mengalir keluar dan selimut yang di genggamnya semakin erat, gadis itu pun membuat sebuah janji ke arah pria yang terduduk tampak santai di sofanya. "Ini sebuah janji!" teriak gadis itu. "Okey, hanya diantara kita," jawab pria itu dengan senyum membulat di bibirnya. Lalu keduanya bersiap keluar dari kamar hotel itu dan menuju ke kendaraan masing-masing yang terparkir rapi di basement lantai bawah. "Jangan lupa aku menunggu kinerjamu," Ucap pria itu setelah memasuki mobilnya lalu meninggalkan gadis itu sendirian mematung meratapi tindakan dia selanjutnya. "Menyebalkan...!!" isaknya meringis perih dihatinya. Kini hidupnya dikontrol orang lain akankah gadis itu dapat melewatinya? lalu tindakan apa yang diharapkan pria itu untuk sebuah janji yang di inginkan gadis itu padanya?
All Rights Reserved
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • Aku Padamu Ya Ukhti (Selesai)
  • ZA&RA
  • Gus Zidan My Husband [SUDAH TERBIT]
  • TERJEBAK DALAM RASA [TERBIT]
  • Your Are Only Mine
  • B͇l͇i͇n͇d͇ ͇W͇o͇m͇a͇n͇ // (selesai)
  • Assalammualaikum, Ustadz [END]
  • Qiyamah Senja-completed
  • Dibalik Topeng Casanova

"Memalukan." ujar Azzam sinis, tatapannya datar. Asya tersentak, senyumnya memudar, ada apalagi dengan suaminya. Kenapa sikapnya selalu berubah. Apa katanya tadi 'memalukan' apa maksudnya. "Ma-maksud mas apa?" tanya Asya bingung. "Jangan pura-pura tidak tahu." sinis Azzam. Asya mengerutkan keningnya. "Asya gak ngerti, maksudnya apa. Asya buat salah lagi?" jawabnya lirih. "Kenapa kamu itu gak bisa sadar diri." ujar Azzam dengan nada dingin. Asya menunduk dalam, "Kalo mas gak bilang Asya juga gak tahu." jawab Asya, suaranya mulai bergetar. Azzam mengusap wajahnya kasar, segera ia beristigfar. Takut syetan menguasai dirinya ketika marah. Dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. "Tadi kamu pulang sama siapa?" tanya Azzam, matanya menyorot tajam. Asya yang melihat itu pun mulai takut. Ia lupa memberi tahu Azzam tentang itu, dan ... darimana Azzam tahu hal ini. Astagfirullah kenapa ia selalu saja ceroboh. "Gak bisa jawab, kan." sindir Azzam. Ia berjalan ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras. Asya segera tersadar dan menyusul langkah Azzam. "Mas Asya bisa jelasin." pekik Asya dari luar kamar, ia menggedor-gedor pintu namun tak digubris oleh Azzam. "Mas Azzam salah paham, Asya bisa jelasin. Itu semua gak kayak yang mas pikirin." ucap Asya dari luar. Hening. "Mas," panggil Asya mulai pasrah. Sepertinya Azzam benar-benar marah, ini semua karena kecerobohannya sendiri. Menyalahkan Fahmi juga bukan pembenaran, karena ia membantunya untuk menjalankan amanah. Cover by Nurhanifah

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman