Story cover for Dia Abadi by imarsmwtyy_
Dia Abadi
  • WpView
    Reads 1,923
  • WpVote
    Votes 178
  • WpPart
    Parts 55
  • WpView
    Reads 1,923
  • WpVote
    Votes 178
  • WpPart
    Parts 55
Ongoing, First published Jul 09, 2024
Prolog

Cinta pertama datang tanpa aba-aba. Bukan tentang janji, bukan pula tentang akhir yang pasti. Hanya tentang perasaan yang tumbuh diam-diam-di bangku sekolah yang penuh tawa dan canda.

Namaku AzeelaAnastasya. Sudah tujuh tahun berlalu sejak pertama kali aku menaruh hati pada satu nama: Darel putra mahardika. Saat itu, aku masih duduk di bangku kelas Tujuh SMP-lugu, canggung, dan terlalu takut untuk mengaku.

Waktu terus berjalan. Aku tumbuh. Dunia berubah. Tapi perasaanku padanya... tetap sama. Mungkin terdengar bodoh-menyukai seseorang selama itu tanpa pernah benar-benar tahu apakah dia pernah menoleh ke arahku.

Tujuh tahun. Bukan waktu yang singkat. Tapi bagiku, setiap detik yang kuhabiskan menyimpan namanya di sudut hati, adalah perjalanan yang belum selesai. Ini bukan sekadar kisah cinta masa remaja. Ini adalah cerita tentang rasa yang tak pernah pergi, tentang harapan yang diam-diam bertahan, dan tentang aku-yang masih menyukainya... sampai hari ini.

Ini lah Kisahnya dimulai dari 7 tahun yang lalu.
All Rights Reserved
Table of contents
Sign up to add Dia Abadi to your library and receive updates
or
#9hingscool
Content Guidelines
You may also like
Di Pertemukan  by calistazyay
14 parts Ongoing
Hidup bukan tentang seberapa cepat kita sembuh, tapi tentang seberapa tulus kita memilih untuk terus melangkah, meski dalam keadaan belum pulih sepenuhnya. Caca bukan gadis yang sempurna-dan ia tidak sedang berusaha untuk menjadi satu. Ia hanya ingin belajar berdamai dengan masa lalu, dengan dirinya, dan dengan dunia yang dulu terasa terlalu bising untuk hatinya yang rapuh. Selama bertahun-tahun, ia hidup dalam ketakutan yang tak bisa ia ungkapkan. Ia menyimpan amarah, kecewa, dan keraguan pada dirinya sendiri. Tapi pelan-pelan, langkah kecilnya membawanya keluar dari gelap yang lama membungkusnya. Bukan karena semua rasa sakit itu tiba-tiba hilang, tapi karena kini ia tahu bahwa ia tidak sendiri. Melalui kegiatan OSIS, ia belajar suara dirinya juga berharga. Lewat pengalaman volunteer, ia tahu bahwa memberi bukan soal mampu atau tidak, tapi tentang peduli. Dan lewat kehadiran Aji, ia mulai memahami bahwa ia layak dicintai-tanpa syarat, tanpa harus menjadi orang lain. Caca mungkin tidak akan pernah benar-benar melupakan luka yang dulu, tapi kini ia tidak lagi membiarkan luka itu mengatur jalan hidupnya. Ia menoleh ke belakang bukan untuk tenggelam dalam kenangan, tapi untuk mengingat betapa jauh ia sudah melangkah. Ia bukan lagi gadis kecil yang hanya bisa diam saat disakiti-ia telah menjadi pribadi yang tahu cara mencintai, terutama mencintai dirinya sendiri. Pada akhirnya, DiPertemukan bukan sekadar cerita tentang cinta antara dua orang. Ini adalah kisah tentang pertemuan-pertemuan yang membawa makna. Pertemuan dengan teman baru, pengalaman baru, dan yang paling penting-pertemuan dengan jati diri yang selama ini tersembunyi. Caca tidak diselamatkan oleh siapa pun. Ia memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri... dan itu adalah bentuk keberanian yang paling indah. Penulis Calista Maulidina Syofyan
You may also like
Slide 1 of 10
Rasa Tanpa Nama cover
Garis Takdir kita cover
NAYYARA  cover
BEATUM cover
REINARKA ✔ cover
Di Pertemukan  cover
Cinta Gus Azzam Hanya Milik Dijah cover
Arsyilazka cover
kita dan waktu. [End] cover
Aku Ingin Terus Bersamamu cover

Rasa Tanpa Nama

10 parts Ongoing

Sejak SMP, hanya ada satu nama yang diam-diam mengisi hari-hariku seorang gadis kecil, ceria, dan pintar. Ia selalu menjadi bayangan di benakku, sosok yang tak pernah benar-benar pergi... bahkan hingga hari ini. Tujuh tahun berlalu begitu cepat, namun kenangan bersamanya tetap indah dan tak tergantikan. Mungkinkah aku akan bertemu seseorang sepertinya lagi? Atau mungkinkah aku bisa mencintai orang lain tanpa dia tahu? Aku rasa tidak. Aku bukan tipe yang mudah berpindah hati. Aku tak ingin memberi ruang pada siapa pun untuk menggantikan tempatnya. Aku memilih bertahan, meski tanpa koneksi, tanpa percakapan, tanpa kabar. Bahkan, tanpa tahu apakah dia... atau aku... masih memikirkan nya. Namun, di tengah semua keraguan dan rasa rindu yang terpendam, sebuah pertemuan tak sengaja terjadi. Di saat yang tak terduga, di tempat yang tak pernah kukira, aku dan dia berdiri kembali di satu titik yang sama. Akankah perasaan lama itu kembali menyala? Ataukah semuanya telah berubah... selamanya?