Tak lagi sama

Tak lagi sama

  • WpView
    GELESEN 3
  • WpVote
    Stimmen 0
  • WpPart
    Teile 1
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Mi., Juli 10, 2024
"Din aku harap setelah ini kita baik-baik aja. Dan bisa ngulang semuanya, aku mau nyoba semua lagi dan janji nggak akan melakukan hal bodoh lagi, aku sayang kamu din" ucapnya dan setelahnya Rega menarik dina kedalam pelukannya "Ada hal yang nggak kamu tau Ga, semua nggak akan sama kayak dulu. Tapi aku seneng ketemu kamu hari ini dan semoga akan selalu baik seperti ini" Ucap Dina. Rega yang mendengar itu nampak memperat pelukannya pada Dina dan melepas lalu pergi meninggalkan Dina. Kali ini Dina tersenyum bahagia melihat Rega melambaikan tangan kearahnya sebelum pergi meninggalkan tempat kerja Dina. "Gue tau din , apa yang bikin lo nggak bisa kayak dulu lagi" Senang dan sedih bercampur jadi satu hari ini. Disatu sisi pertemuan nya hari ini sangat mengobati rindunya yang sudah lama diganti, tapi keadaannya saat ini tidak mungkin kalau rega harus egois untuk mendapatkan Dina lagi.
Alle Rechte vorbehalten
#100
arsitektur
WpChevronRight
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Brothers
  • FRIEND WITH BENEFIT (SELESAI)
  • CINTA SELEBGRAM DAN TUAN CEO (SELESAI)
  • KKM (Kamu, Kita, Mereka)
  • Forever Alone (Sudah Terbit)
  • TERSADAR
  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • YES, BOSS ! (SELESAI)
  • Miracle (SELESAI)
  • My Home ✔ (KARYAKARSA)
Brothers

"Kay! Pikirin lagi deh ide gila lo ini! Masa gue sama Ray harus pake seragam begituan. Lo sih enak masih pakai seragam Ray. Gue dan Ray gimana?" Aku dan kedua saudara kembarku sedang berdiskusi di kamarku. Ini pernah dilakukan seminggu yang lalu saat Kay mengatakan ide gilanya kepadaku dan Ray. "Gak bisa Fay! Kan udah kesepakatan." Kay itu keras kepala. Mungkin karena merasa lahir lebih dulu, jadi dia selalu ingin menang sendiri. "Tapi kan lo bisa tukeran sama Ray tanpa harus melibatkan gue Kay!" aku protes sedangkan Ray diam saja. Dia benar-benar lamban. Sampai-sampai perempuan yang mendekatinya saja dia tidak menyadarinya. Itu karena kelambanan otak berpikirnya. "Gak bisa Fay sayoong! Ray itu gak bisa basket. Dia itu atlet renang. Jadi selama dia sekolah di tempat gue nanti, dia bakalan kalah terus kalau tanding sama yang lain. Bisa-bisa reputasi gue hancur gara-gara permainan basketnya yang parah." Aku tahu Ray memang tidak suka berlari, karena itu dia tidak suka bermain basket denganku dan Kay. Kalau kita bertiga sedang bermain bersama, Ray lebih memilih menonton aku dan Kay yang sibuk mencuri bola drible. "Lagipula kesepakatan terakhir itu mutlak setelah kita mengundinya. Jadi ini gak bisa diganggu gugat lagi. Besok kita mulai penyamaran. Gue jadi Ray, lo Fay jadi gue, dan Ray jadi lo Fay." Kay sudah memulai sikap otoriternya. Kalau sudah begini, aku dan Ray hanya bisa pasrah. Semoga Ayah dan Bunda tidak menyadarinya. Ayah mungkin tidak akan menyadarinya tapi Bunda sepertinya harus diwaspadai.

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien