Double A
  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 10, 2024
"Angkasa, tetap seperti ini, ya," ucap Senja, menatap dalam ke arah tautan mereka, kemudian gantian menatap penuh Angkasa. Senyum lebar menghiasi paras cantiknya. Binar kebahagian jelas tercetak di sana, dan warna kehidupan tergambar ceria di raut wajahnya. Senja, dia hanya fokus menatap dalam ke arah kekasihnya. Seolah, yang dia lihat hanya keindahan pahatan salah satu ciptaan Tuhan, yaitu kekasihnya, Angkasa Biru. Angkasa, dia balas menatap tatapan kekasihnya itu tidak kalah dalam. Saling menyelam di dalam tatapan masing-masing. Tautan mereka, dia genggam semakin erat, namun lembut dan penuh hati-hati. Hatinya berdebar cepat, membuncah seperti ledakan. Begitu hangat dan menyenangkan perasaannya. Tidak bohong, dirinya sangat nyaman berada tepat di samping gadisnya. Dia menarik lembut gadisnya itu ke dalam pelukannya, dipeluknya dengan penuh perasaan dan kehangatan menyelimuti mereka. Dia menyenderkan kepala gadisnya itu di dada bidangnya, melingkari penuh tubuh itu dengan kedua tangan berotot miliknya. Surai hitam nan panjang itu dia elus lembut, sambil sesekali dia cium aroma khas yang menjadi candunya setiap kali bertemu. ____________________________________________ Welcome to my first story✨ Assalamu'alaikum wabarakatuh. Haloo ... salam literasi, salam toleransi juga salam enam agama. Aku Shaa, panggil aja seperti itu, yaa, hhe. Aku asli manusia. Aku kini tinggal di Planet Bumi, intinya aku asli Yogyakarta, tinggal di Sukabumi, xixi. Keseharian aku adalah menulis, menulis, dan menulis. Yupss, hanya tulisan yang aku suka. Tidak ada yang spesial dari aku. Karena yang spesial hanya martabak coklat> Sekian perkenalan singkat dari aku. See you next to my story💫 Mulai menulis : 10-07-2024
All Rights Reserved
#557
perkuliahan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 - Sehun x Yoona ✔️
  • Bersamamu
  • DIA ANGKASA
  • Hai, Angkasa! [COMPLETED]
  • Sudut pandang (felisha)
  • DOPAMINE [HIATUS]
  • Laskar Pemimpi || NCT Dream (on going)
  • 𝐋 𝐎 𝐓 𝐔 𝐒

‼️F I K S I‼️ 𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 (adj) : tak tergantikan 🍀🍀🍀🍀🍀 "Buat Kakak," ucap seorang wanita muda mengeluarkan sebuah amplop putih yang tercantum nama sebuah rumah sakit. "Buat aku? Rumah sakit? Kamu sakit?" tanyanya yang dibalas gelengan kepala oleh sang kekasih. Angkasa mengernyitkan keningnya, tangannya meraih amplop tersebut dan membukanya. Seketika wajahnya berubah pias seolah darah direnggut paksa dari wajahnya hingga membuat pucat sempurna seiring iris kembar legamnya menelusuri deretan kata yang tertera diatas kertas putih tersebut. "Aku hamil, Kak. Kata dokter anak kembar dan umurnya sudah 3 minggu." Seiring kalimat itu terucap, nadanya merendah hampir tak terdengar kalau Angkasa tidak memberi fokus padanya. "Gimana bisa? Senja, kita baru ngelakuin itu sekali. Enggak mungkin langsung jadi. Senja, bilang sama aku. Ini bukan anak aku kan?!" "Bukan anak kamu? Kakak nuduh aku ngelakuin itu sama orang lain, iya?" "Gak mungkin. Keluargaku gak punya keturunan kembar. Gak mungkin itu anak aku, Senja! Bilang sama aku, siapa yang udah menghamili kamu?" Setetes air terjun bebas dari pelupuk mata. Hatinya terluka begitu dalam sebab kalimat yang terucap bagaikan belati yang menyayat setiap lapisan hatinya. Senja sama sekali tidak pernah menyangka jika kalimat itu terucap dari bibir pria yang kerap kali menyatakan besarnya cinta yang dimiliki untuknya. Lantas apa sekarang? Dimana rasa cinta yang selalu digaungkan di telinganya itu? Bahkan Senja mendadak kehabisan kata. Senja seperti tak mengenal sosok didepannya. Asing. "Gugurin. Kalau kamu masih cinta sama aku, gugurin. Aku bakalan tetap menerima kamu asal kamu gugurin kandungan kamu." Kalimat terakhir yang Senja dengar sebelum kaki jenjangnya membawa tubuhnya melangkah pergi dari hadapan pria yang dicintainya itu tanpa ada niatan menoleh sedikitpun ke belakang meninggalkan Angkasa yang masih diam seribu bahasa tanpa berniat mengejarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines