PRIHAL RUMAH DAN SEISINYA | ENHYPEN

PRIHAL RUMAH DAN SEISINYA | ENHYPEN

  • WpView
    Reads 13,959
  • WpVote
    Votes 1,072
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 31, 2025
SPIN-OFF [HOME] "setelah bunda tiada, saya udah ga nganggap kalian sebagai saudara" - ini cerita Mahesa Jaceson Adhiwangsa, dan ketujuh adiknya yang seolah HARUS dipaksa mengerti mengenai suluk buluk getirnya kehidupan setelah kepergian bunda. kehidupan mereka perlahan-lahan mulai berubah, semesta seolah merenggut kebahagian yang mereka punya, rumah yang selama ini mereka huni itu seolah mulai roboh dan melukai penghuninya... dan dengan itu, mahesa selalu merenenggui sesuatu, dirinya selalu diliputi kesalahan ia merasa lalai, lalai karna dirinya merasa bunda akan selalu menyertai mereka dan terlambat menyadari jika bunda tidak akan hidup selamanya, mahesa terlalu fokus pada dirinya, fokus pada kesenangan semata sehingga abai dengan usia bunda. - "jika waktu dapat diulang, hesa cuma mau satu bun, hesa cuma mau belajar gimana rasanya hidup tanpa bunda." [ON GOING]
All Rights Reserved
#172
redvalvet
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DUNIA HAMPA
  • Pluviophile [END]
  • 7'Brother | ENHYPEN
  • Is It Home ?
  • KOST BERISIK (Enhypen) •hiatus•
  • SKY
  • HOME | ENHYPEN
  • Cypress Family || Enhypen
  • Luka Si Bungsu [HIATUS]

Hampa, kata itu menjadi hal yang ada di benaknya setiap kali ia pulang ke "rumah" miliknya. Tak ada niatan baginya, untuk sekedar membuat rumahnya lebih berwarna lagi. Dunianya terasa hampa, setiap kali ia ingin mengeluh. Ia kebingungan, mencari tempat untuk bersandar, dan bercerita tentang hari-harinya yang sulit. "Rumah" miliknya memang selalu berbeda, di sana sunyi. Di sana tidak terasa seperti ada kehidupan sedikit pun, hampa. Bahkan "rumah" yang dikatakan orang-orang sebagai tempat pulang itu, tak sama baginya. "Rumah" yang dianggap sebagai dunia kasih sayang bagi orang-orang, juga tak sama baginya. Semuanya bohong, semua tentang dirinya. Yang katanya menjadi kebanggaan bagi semua orang, tanpa ada kekurangan. Berjuta-juta lara tak pernah absen dari dirinya, seakan-akan seperti tidak ada detik tanpa kebohongan baginya. Sampai kapan, ia harus merasakan semua kesunyian ini? Kapan, kehampaan ini akan usai? Di mana, ia bisa mengekspresikan dirinya, selayaknya remaja pada umumnya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines