Achilles (The Aberdeen)

Achilles (The Aberdeen)

  • WpView
    Reads 49
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadMatureComplete Sat, Aug 3, 2024
*Dagghh.. *Buugghh... suara pukulan merambat kencang kepada angin sekitar sore itu "Udah gua bilang sama lu ya binatang!!, kalau lu sampai dateng lagi kesini, gua rontokin gigi lu, tapi akhirnya lu dateng lagi. Hahahaha, bilang dadah ya buat satu taring ini," emosi mulai menguasai seluruh bagian otakku, aku yang sedang memegang gunting tang yang kuambil dari kotak peralatan, kala itu tidak pikir panjang untuk akhirnya kubuka kedua mata alat tersebut, kujepit gigi taring kiri dari Rizal kucoba untuk menariknya. .. "Arpan goblok udahlah, kalau ternyata dia malah mau ngomongin hal yang nguntungin kita gimana?, gimana kalau akhirnya dia gajadi ngomong?, lagipula kita kan gatau maksud dan tujuan dia balik kesini, tenangin dulu lah diri lu bangsat," Tommy yang tengah berteriak kencang sembari memasang raut wajah yang marah kearahku dapat menghentikan tarikan gunting tang, perlahan kulonggarkan cekikan yang tengah melilit leher Rizal. .. "Ampun, tolong pan, tolong lepas, gua gabisa nafas, udah pan," erangan Rizal yang terdengar mengharap iba jelas di telingaku, tak lama kulepaskan tangan yang sedang menggenggamnya waktu itu, dengan air mata yang mengalir deras di matanya membuatku penasaran rasa sesal seperti apa yang ada dibenaknya. Ini merupakan awal kisah keseharian Arpan, Anggota dari Aberdeen, kelompok kecil di SMA 6 Cempaka yang seperti mempunyai dua kepribadian, di suatu waktu dia dapat terlihat riang, jenaka, polos, dan lugu, akan tetapi di beberapa waktu lain dia memperlihatkan sosoknya yang menyeramkan, gagah, berwibawa, tegas dan kejam. Cerita ini sekaligus menjelaskan lahirnya kelompok Aberdeen, dari awal mula terbentuk hingga alasan dibentuk. Pada cerita ini pula Arpan bertemu dengan wanita yang dengan aura dan keindahannya menjadikan Arpan terpukau dibuatnya. Seorang yang hidupnya penuh dengan tumpah darah, di sisi lain bisa merasakan jatuh hati.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • MY BAD GIRL
  • Albel
  • Diantara Kalian
  • penyesalan
  • ice bear kesayangan
  • Naughty Nanny
  • ALRIN
  • the other side

"Iya sih, enggak penting juga. Enggak ada hubungan juga sama gue, cukup tahu aja," Mince mengambil tisu lalu mengusap air mata dan terkekeh. Ia hanyalah sebagian keryawan kecil di sini. "Udah jangan sedih lagi, nanti nyokap lo tambah sedih liat lo kayak gini," "Iya sih," "Makan yuk, udah jam 12 nih, gue laper," Dina menenangkan Mince. Mince menarik nafas menatap form form yang ada di atas meja, "Tapi kerjaan gue banyak," "Udahlah dikerjain nanti aja, lo harus makan dulu biar kuat," "Kuat ngapain?," "Kuat bercinta," timpal Dina. "Itu sih lo, bukan gue," Seketika Dina tertawa ia melirik Mince berdiri di sampingnya, "Bercinta itu asyik tau," "Ya asyiklah, kalau enggak asyik orang enggak mungkin bela-belain bulan madu sampai ke ujung dunia demi buat anak banyak-banyak," ucap Mince asal, melangkah keluar dari office. "Emang lo pernah ngerasain?," "Enggak," "Nanti kalau udah punya pacar dicoba aja," "Ogah," "Enak tau," "Ih apaan sih lo," "Gue pernah coba sama pacar gue, rasanya enak," "Ih ...," "Makanya cari cowok, biar bisa enak-enak," "Ih Dina !, lo apa-apaan sih cerita ginian," "Biar lo tau lah," "Asemmm," Tawa Dina kembali pecah, mereka berjalan menuju EDR. Ia senang melihat Mince kembali tertawa. Ia tahu bahwa wanita cantik ini begitu menyayangi ibunya lebih dari apapun. Sehingga rela menjual barang berharga miliknya demi pengobatan sang bunda. Ia sengaja berbicara seperti ini demi melihat tawa Mince.

More details
WpActionLinkContent Guidelines