Pulang, Bu! (Segera Terbit)

Pulang, Bu! (Segera Terbit)

  • WpView
    LECTURAS 406
  • WpVote
    Votos 60
  • WpPart
    Partes 24
WpMetadataReadConcluida jue, oct 17, 2024
Aku pernah menemukan kalimat seperti ini, 'hidup tanpa ibu itu bagaikan rumah tanpa lampu'. Awalnya aku tak begitu paham. Namun semesta seolah ingin aku memahaminya. Aku Ayra. Aku akan sedikit bercerita tentang teater kehidupan yang aku lakoni. Tentang bagaimana writer-director terbaik membantuku belajar menjadi aktor yang handal. 'Jika ada yang romantis, maka ada yang Maha Romantis', pernah dengar kalimat itu? Ya, ini juga tentang bagaimana Sang Maha Romantis membantuku belajar meromantisasi setiap hal dalam hidupku. Hidup tanpa ibu itu bagaikan rumah tanpa lampu, katanya. Apa itu artinya, gelap? "Pulang, Bu!" ~Ayra Syams Elhannan ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Start : 29 Agustus 2024 *Cerita ini diikutsertakan dalam event Pensi Vol.13 yang diselenggarakan oleh Teorikata Publishing.
Todos los derechos reservados
#2
pensivol13
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Karam [✔]
  • Apa Itu rumah (SUDAH TERBIT)
  • Zero (A Story About Life)
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • ARIFIN || BAD HUSBAND [Terbit]
  • Salah Target [Unpublish]
  • Pelukan Terakhir Ayah [Terbit]
  • EVERLASTING LOVE (SUDAH TERBIT)
  • Genggam yang Terlepas (SUDAH TERBIT)
  • He's Sergio [TAMAT]

Ketika berusia sepuluh tahun, aku melukis Ibu sebagai cinta pertamaku. Lalu Ayah menyebutnya pembodohan dan menikahi wanita lain sementara Ibu pergi. Ibu yang baru sudah punya anak bernama Rajah. Sejak itu, aku tidak melukis lagi. Aku tidak mencintai lagi. Ketika berusia dua belas tahun, aku dihajar penagih utang. Lalu Safir menyelamatkan keluarga kami dan mengajarkanku bahwa pendidikan itu penting. Pria ini sudah sukses. Sejak itu, aku mulai bersekolah. Aku mulai meninggalkan mimpi. Ketika aku berusia lima belas tahun, Ayah dipenjara. Lalu Ibu jadi makin gila dan adikku keluyuran entah ke mana. Kehidupan sekolahku bahkan tak lebih baik dari mereka. Sejak itu, aku jadi ragu pada realita. Dua tahun kemudian, aku bertemu Pasifika Biru. Lalu aku melihat dunia dengan cara yang baru. Pertemuan kami adalah berkah dalam hidupku. Setidaknya, aku harap begitu. --- est. Juni 2023

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido