Story cover for Temu Rasa by tulisanayu_
Temu Rasa
  • WpView
    Reads 5,172
  • WpVote
    Votes 898
  • WpPart
    Parts 30
  • WpView
    Reads 5,172
  • WpVote
    Votes 898
  • WpPart
    Parts 30
Ongoing, First published Jul 28, 2024
Mature
te.mu1 /têmu/
• v sua; jumpa:
Ra.sa
• n tanggapan hati terhadap sesuatu (indra): -- sedih (bimbang, takut)


---

Ellia Kana Pravina dan Sabda Argani Tjandra menjalani hidup di persimpangan jalan. Ellia, anak bungsu yang selalu berada dalam bayang-bayang keputusan ayahnya, memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya demi merawat ibunya yang semakin rapuh. Namun, di balik keputusan itu, ia merasa tersesat-seperti tak pernah benar-benar hidup untuk dirinya sendiri.

Sabda, anak sulung dari keluarga besar, memilih meninggalkan karir gemilang di setelah bertahun-tahun berkutat dengan pekerjaan. Ia pulang dengan kerinduan besar pada keluarganya, namun juga membawa kegelisahan tentang arah hidupnya sendiri. Di tengah pencarian itu, Sabda merasa kehilangan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar rutinitas pekerjaan.

Di bawah langit yang sama, kedua jiwa ini bertemu-menyadari bahwa rasa, dalam segala bentuknya, adalah bagian dari perjalanan manusia. Bersama, mereka mencoba memahami arti rumah, keluarga, dan keberanian untuk menata ulang kehidupan yang selama ini terjalin rumit. Sebuah kisah tentang pertemuan yang membawa harapan, keraguan, dan akhirnya, keikhlasan untuk menerima rasa dalam hidup.

---

Januari, 2025.
All Rights Reserved
Sign up to add Temu Rasa to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 7
"Cemara tapi di dalam nya berantakan" cover
SEMESTA cover
A Letter to My Sister cover
Play Date cover
Janji yang Menemukan Rumah cover
THE FIND LOVE cover
My Perfect Girlfriend (END) cover

"Cemara tapi di dalam nya berantakan"

19 parts Complete

Citra selalu percaya bahwa keluarga adalah tempat ternyaman untuk pulang. Namun, bagi dirinya, rumah justru menjadi tempat yang paling menyesakkan. Di depan orang lain, Ayahnya tampak seperti sosok yang penyayang dan bertanggung jawab. Tapi di balik pintu rumah, hanya kemarahan dan tuntutan yang ia terima. Setiap kata yang keluar dari mulut Ayah lebih sering berupa bentakan daripada nasihat. Setiap harinya, ia harus belajar menahan air mata, berharap suatu hari Ayah akan melihatnya sebagai seorang anak, bukan sekadar seseorang yang harus selalu ia kontrol. Namun, harapan itu perlahan pudar. Saat semua luka semakin dalam dan kata-kata tak lagi didengar, Citra menyadari satu hal: ia telah kehilangan sosok Ayah, bahkan sebelum ia bisa benar-benar mengenalnya. Kisah ini adalah tentang perjalanan seorang anak perempuan yang berusaha bangkit dari bayangan masa lalu. Tentang keberanian untuk melepaskan, meski yang dilepaskan adalah seseorang yang seharusnya menjadi tempat berlindungnya. Bisakah seseorang tetap bertahan, meski tanpa sosok ayah disini