Temu Rasa
  • Reads 2,204
  • Votes 413
  • Parts 21
  • Reads 2,204
  • Votes 413
  • Parts 21
Ongoing, First published Jul 28, 2024
10 new parts
te.mu1 /têmu/
• v sua; jumpa:
Ra.sa
• n tanggapan hati terhadap sesuatu (indra): -- sedih (bimbang, takut)


---

Ellia Kana Pravina dan Sabda Argani Tjandra menjalani hidup di persimpangan jalan. Ellia, anak bungsu yang selalu berada dalam bayang-bayang keputusan ayahnya, memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya demi merawat ibunya yang semakin rapuh. Namun, di balik keputusan itu, ia merasa tersesat-seperti tak pernah benar-benar hidup untuk dirinya sendiri.

Sabda, anak sulung dari keluarga besar, memilih meninggalkan karir gemilang di setelah bertahun-tahun berkutat dengan pekerjaan. Ia pulang dengan kerinduan besar pada keluarganya, namun juga membawa kegelisahan tentang arah hidupnya sendiri. Di tengah pencarian itu, Sabda merasa kehilangan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar rutinitas pekerjaan.

Di bawah langit yang sama, kedua jiwa ini bertemu-menyadari bahwa rasa, dalam segala bentuknya, adalah bagian dari perjalanan manusia. Bersama, mereka mencoba memahami arti rumah, keluarga, dan keberanian untuk menata ulang kehidupan yang selama ini terjalin rumit. Sebuah kisah tentang pertemuan yang membawa harapan, keraguan, dan akhirnya, keikhlasan untuk menerima rasa dalam hidup.

---

Januari, 2025.
All Rights Reserved
Sign up to add Temu Rasa to your library and receive updates
or
#64cerita
Content Guidelines
You may also like
Rindu dalam Piring Seng by opicepaka
5 parts Ongoing
"Katanya, apa yang kita ingin kita makan, kadang mencerminkan apa yang kita ingin rasakan." Arum memeluk lututnya sendiri. "Kalian belajar teori kayak gitu juga?" Jari-jari Latif menyisir rambut ikal Sofa, rambut ikal yang mengingat Latif pada Ibu. "Memang kalau aku ingin manis, apa yang ingin kurasakan?" Dia tidak sempat ikut memandikan ibunya. Ketika dia datang, jasad telah siap diangkat ke masjid terdekat untuk disalatkan. Sampai saat ini, meski telah lewat tujuh hari, masih dirasakan beban di pundaknya dengan jelas ketika mengangkat keranda. Arum menatap Latif lama, mata hitamnya berkaca-kaca. "Bahagia." **** Dalam kehilangan yang mendalam, Bubur Merah sederhana terhidang dalam piring seng yang telah terkikis tepiannya. Hangat yang mengalir dari mulut hingga perut, memeluk jiwanya yang selama beberapa hari hampa. Manis yang terkecap lidah, memberi pertanda, dunia bukan hanya tentang getirnya duka. Sejak saat itu, makanan yang menjadi perlambang sosok ibu itu selalu memberi rasa nyaman dalam hati Latif. Rasa nyaman yang selalu terbetik bersama bayangan peri yang menabur bubuk ajaib hingga masakan itu tercipta. **** Arum terlalu sering menatap lautan hitam setelah berkutat belasan jam menyelesaikan ribuan hidangan untuk orang yang berpesta. Pemandangan kosong serupa hatinya yang tidak tahu apa inginnya. Dia rindu pada rasa hangat yang menjalar ketika masakan sederhananya mencipta senyum tulus berbalut syukur di wajah penikmatnya. Dia ingin kembali pada kompor minyak sederhana; air sumur pompa; pecahan beras, dan piring seng yang telah terkikis tepiannya.
You may also like
Slide 1 of 10
Bear Hug (Re-published) cover
The Boss is My Roommate [21+] cover
Falling In Dutch cover
Broken Flower cover
Trapped With My Brother Friend cover
Selova cover
Radit Lily cover
Rindu dalam Piring Seng cover
Bosku Istriku [SELESAI] cover
Probation Period cover

Bear Hug (Re-published)

6 parts Complete

#1 in karir | 29 Dec 2018 #41 in Chicklit | 8 June 2018 For the completed story, please check https://karyakarsa.com/coklatcabe "Kamu mau pakai cadar?" tanya temanku di sela-sela kegiatanku sedang meneror teman lain untuk memberikan update-an pekerjaan padaku. "WHAT??" Aku menghentikan teroran itu dan menatapnya terperangah. Iya sih, emang pengen segera membina rumah tangga, tapi ya nggak seekstrim itu juga. Hati dan iman dedek belum kuat hijrah ke sana.. --April Syailendra--