Zenith Edsel Caspian lelaki tampan dengan tatapan tajam yang menegaskan wibawa dan ketegasan. Dingin di luar, sulit tersentuh perasaan, dan irit bicara, ia adalah sosok yang jarang membuat orang lain masuk ke dunianya. Kaya raya, elegan, dan selalu memegang prinsip, setiap gerak-geriknya memancarkan aura kontrol dan kekuatan yang sulit diabaikan. Orang-orang di sekitarnya menghormatinya, tapi sedikit yang benar-benar mengenal sisi hangat di balik sikap dinginnya.
Namun segalanya berubah ketika matanya pertama kali bertemu dengan Keinna Oswald Yovanka Prasita. Gadis itu, dengan rambut hitam panjang yang tergerai bebas, senyum nakal yang menantang, dan keberanian yang membuat banyak orang gentar, langsung mencuri perhatian Zenith. Keinna bukan gadis biasa dia cantik, cerdas, dan pemberani, dengan sikap yang sama sekali tidak takut menghadapi pria seperti Zenith. Keberaniannya menatap langsung, menentang, dan bahkan menertawakan ketegangan yang biasanya ia ciptakan, membuat Zenith merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo."
"Mau ngomong apa?"
"Hari itu... gue nggak sengaja denger soal pria bertopeng yang neror lo." Dion mengeluarkan sebuah topeng kulit. "Apa dia juga pakai topeng ini?"
Darren menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Iya. Dia pakai topeng itu." Darren menatap Dion tajam. "Dia juga neror lo?"
Dion menghela napas berat. "Iya. Dan gue penasaran siapa dia sebenarnya. Masalahnya, di sekolah ini banyak banget anak yang pakai topeng kayak gini cuma karena lagi hits. Gue nggak tahu... siapa di antara mereka yang ngusik hidup gue."
"Menurut lo... siapa yang paling lo curigai?"
Dion terdiam. Wajah teman-temannya silih berganti muncul di kepalanya.
"Lo tahu maksud tulisan ini?" Dion mengangkat selembar kertas yang tulisannya mulai memudar.
Darren terbelalak. Kertas itu persis miliknya. Kata-katanya sama.
Dengan tangan gemetar, Darren membuka tas dan mengeluarkan kertasnya sendiri.
Kini giliran Dion yang membeku. Ia merebut kertas Darren dan membandingkannya berkali-kali. Sama. Tak satu kata pun berbeda.
"Gila..." suara Dion nyaris berbisik. "Kok bisa kebetulan begini?"
PLAGIAT DILARANG MENDEKAT🚫🚯
INI MURNI DARI PEMIKIRAN SAYA SENDIRI, ANDA JANGAN BERANI MENGCOPY KARYA ORANG LAIN.📵