Garis Waktu

Garis Waktu

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 6, 2024
"Pak akim acel mau tinggal sama kakak cantik aja ya boleh ya pak akim hiksss, acel gak mau tinggal sama papa sama bunda hiksss" pinta seorang anak laki-laki kepada seorang hakim dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Apa ini mimpi buruk? jika benar ia ingin benar benar bangun untuk menghentikan mimpi buruk ini tapi sayangnya semua ini nyata. Bagaimana bisa dalam 1 hari status nya berubah setelah ia bertemu seorang anak umur 5 tahun yang mengklaim nya sebagai seorang ibu dan ingin tinggal bersamanya, dan yang lebih parahnya bocah itu memilih dirinya di pengadilan. apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa ia harus menjadi seorang ibu di usia nya yang terbilang cukup muda? Kesialan itu tak sampai di situ saja karena bocah itu juga ia harus berurusan dengan Reyga dan Arva yang tak lain adalah papa dan paman dari bocah tersebut, mereka berdua seperti malaikat maut, menurut nya ini yang di sebut sudah jatuh ketiban tangga. Bagaimana nasib Geva selanjutnya? "Kamu harus jaga keponakan saya dengan baik, kalau ada yang lecet sedikit pun kamu berurusan sama saya" ucap Arva dengan penuh penekanan dan itu cukup membuat Zeva sedikit takut "Oh iya saya akan selalu cek anak saya seminggu 5x dan tenang aja semua kebutuhan Aldo dan kamu saya yang nanggung tugas kamu hanya menjaga nya dengan baik" timpal Reyga lanjut lalu meninggalkannya yang masih mematung ia tak tahu harus bagaimana sekarang.
All Rights Reserved
#160
galak
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Sweet RomanShit
  • Suck It and See (Complete)
  • Suamiku Amnesia (REPOST)
  • Rumah Sepasang Luka ✓
  • MY SWEET DUDA
  • Living with Brothers  [TAMAT]✓
  • Tides of Desire [✓]

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines