Kian tahu, ia hidup dengan selalu terjebak dalam segitiga.
Setiap perasaan membentuk sudut, dan setiap konflik menjadi sisi yang tak bisa ia abaikan. Dalam hidupnya, tak pernah ada hubungan yang membentuk garis lurus. Selalu ada variabel tak dikenal, fungsi tersembunyi, atau masa lalu yang menjelma sebagai sudut ketiga, mengubah semua yang ia harap bisa sederhana.
Sebagai seorang guru matematika, ia tahu: trigonometri diciptakan untuk memahami sudut, menghitung jarak, dan menemukan solusi. Tapi bisakah rumus-rumus itu menyelamatkan hubungan yang realitanya jauh lebih kompleks dari sekadar sin(θ) atau cos(α)?
Perasaan manusia adalah hal yang rumit untuk dipahami. Semakin keras usaha dalam memahaminya, maka semakin membingungkan pula urusan yang harus diselesaikan.
Semakin lama semakin larut dalam ketidaknyamanan. Perasaan yang menggebu-gebu disaat wanita itu mendekatinya. Tak ada kepastian dari logika, tentang perasaan yang dirasakannya. Kemurkaan? Kebencian? Kecintaan?
Tak heran, jika amarah dan cinta itu diumpamakan sebagai satu warna yang sama.