FLEETING HAPPINESS

FLEETING HAPPINESS

  • WpView
    LECTURAS 503
  • WpVote
    Votos 91
  • WpPart
    Partes 25
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, ago 20, 2024
WpInfo
Ficción
Romance
Mereka selalu bilang kalau rumah adalah tempat paling nyaman untuk pulang. Tapi tak ada yang bertanya bagaimana rasanya tinggal di rumah yang dipenuhi tawa, sementara dirinya sendiri tak pernah menjadi bagian dari kebahagiaan itu. Dia selalu terlihat biasa saja. Wajahnya datar, suaranya tenang, seolah tak ada yang mampu melukainya. Padahal, bukan karena dia tidak punya perasaan. Dia hanya terlalu sering kecewa hingga akhirnya belajar menyembunyikan semuanya. Tidak semua luka terlihat oleh mata. Ada yang tumbuh di dalam hati, perlahan menghapus harapan, hingga seseorang lupa bagaimana rasanya merasa dicintai. Mungkin... kebahagiaan memang pernah datang. Hanya saja, dia tidak pernah tinggal cukup lama.
Todos los derechos reservados
#242
garuda
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • 12 Titik Balik (END)
  • FOUR (Selesai)
  • Pena Cahaya: Dunia Tengah
  • Four : FALLEN (Selesai)
  • i'm Pick Me Girl
  • Rahasia Di Sekolah (SUDAH TERBIT)
  • GO GO GO My school (End)
  • Mystro {On Going}
  • Jejak Dalam Bayang

(Sudah revisi) SMA Garuda Merah, sekolah megah penuh ambisi, kini menjadi kandang maut bagi dua belas jiwa muda. Dalam satu malam penuh misteri, gerbang terkunci, listrik padam, dan suara Kepala Sekolah menggemakan perintah mematikan: "Bertahanlah, atau hancur bersama waktu." Aneth, gadis tangguh namun rapuh, harus memimpin teman-temannya menari di ujung pisau. Persahabatan diuji, cinta dipertaruhkan, dan pengkhianatan berbisik di setiap sudut gelap lorong sekolah. Malam-malam panjang penuh teriakan dan isak tangis, membuat solidaritas pecah. Saat darah membasuh lantai sekolah, dan satu per satu nyawa direnggut, Aneth sadar: di permainan ini, tidak ada pahlawan - hanya korban dan pengkhianat. Di ujung segalanya, saat tubuh-tubuh yang dulu hangat kini membeku, Aneth berdiri sendiri, menggenggam bendera yang kini basah oleh darah. Dari balik jeruji tak kasat mata, ia menyadari: yang tersisa dari hidup bukan kemenangan, melainkan luka yang abadi.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido