37 parts Ongoing Suara peluit pertama terdengar. Afdal sudah menaiki anak tangga kereta, lalu menoleh ke Baruna. "Bang, ayo!"
Baruna mengangguk pelan, lalu menunduk mengambil gagang kopernya.
Tapi saat itu juga, ia menoleh ke arah Ale sekali lagi-dan langkahnya terhenti. Pandangannya bertemu dengan mata Ale yang tak bergeming. Ada sesuatu yang menahan di dada. Sesuatu yang tak bisa dibawa pergi begitu saja.
Baruna mendadak melepaskan koper itu begitu saja. Ditinggalkannya di sisi gerbong. Kakinya melangkah cepat, lalu berubah jadi lari kecil menyusuri tepi peron. Beberapa orang menoleh, bingung. Tapi ia tidak peduli.
Ia berhenti tepat di hadapan Ale.
Ale tampak kaget, nyaris bersuara, tapi Baruna sudah lebih dulu meraih bahunya dan memeluknya erat.
Tak ada kata. Hanya tubuh yang melepas beban, dan tangan yang ingin menggenggam waktu sedikit lebih lama.
Pelukan itu hanya berlangsung beberapa detik. Tapi cukup untuk mengatakan hal-hal yang belum pernah mereka ucapkan.
Saat Baruna melepaskan pelukannya, Ale masih menatapnya dengan mata yang nyaris berkaca.
"Jaga diri," bisiknya.