The Lost Art

The Lost Art

  • WpView
    Reads 940
  • WpVote
    Votes 67
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 15, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Saat berumur 7 tahun, Winnie pernah kehilangan lukisan yang baru beberapa hari lalu ia lukis. Namun, lima tahun kemudian, Winnie menemukan lukisannya yang dulu sempat hilang. Tapi tidak berlangsung lama, karena saat berumur 15 tahun Winnie kembali kehilangan lukisannya. Kehilangan untuk selamanya. Winnie tidak akan pernah menemukan lukisan itu lagi. Itu yang Winnie pikirkan sebelum akhirnya tiga tahun kemudian Winnie bertemu dengan lukisan yang mirip sekali dengan lukisannya. Lukisan itu sama persis, bahkan seperti duplikat dari lukisan Winnie. Terlihat asli dari pada yang aslinya. Hingga Winnie ragu, ini duplikat dari lukisannya atau memang lukisannya yang asli? Namun tentu, ini bukan hanya sekedar tentang lukisan.
All Rights Reserved
#191
complicated
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Trust
  • Kanvas Merah
  • Revenant: Kuntilanak Penyelamat
  • Tanduk Kecil di Atas Kepala Kita
  • Hello Alin | ✔
  • JEVIN AERA
  • Warna Favorit
  • REGRET
  • Antara Cinta dan Takut [TERBIT]
Trust

Hidupnya indah, pada masanya. Satu masalah datang membuatnya bertransformasi menjadi dia yang lain, yang tak dikenal dan tak mau dikenal. Hidupnya berubah hitam, monoton, tak bergairah. Namun, ketika muncul setitik harapan cerah yang datang untuk membantunya kembali bangkit, hal lain muncul. Ragu itu muncul ketika harus dihadapkan pada kata percaya. Percaya untuk percaya dengan ketulusannya, atau tidak percaya karena banyak asumsi buruk yang berputar di kepalanya. Bagaimana jika ketulusan itu hanyalah kepalsuan? Ketika ia percaya, hanyalah penyesalan yang tercipta. Namun, bagaimana jika sebaliknya, ketulusan itu benar-benar sebuah ketulusan? Namun, pada kenyataannya ia masih berada di antara keduanya. Berpikir antara ya dan tidak, antara percaya dan tidak percaya. Terpaku pada garis yang sama, dengan satu ragu untuk memilih jalan yang mana. Ia tak mau salah untuk memilih. Lagi. Karena terakhir kali ia percaya, yang dipercayai mengkhianatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines