Senja dan Peliknya

Senja dan Peliknya

  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 25, 2024
Malam sudah hampir surut, aku dapat melihat langit tak lagi hitam pekat di antara bau kematian ini. Berjarak kiranya lima meter di depanku yang sedang merunduk sembunyi, dalam keremangan kulihat Bapak memasukkan telepon selulernya kembali ke dalam saku. Meski hanya memandang lehernya dari tempatku bersembunyi, aku yakin air mukanya sudah tak mengenakkan hati. Jelas, ia baru saja menelepon Ibu untuk segera kembali ke rumah dengan marah setelah ia mendapati rumahnya kosong. ------------------------------------------------------------- Senja memulai kehidupan barunya sebagai mahasiswa. Ia tak menyangka sebuah keputusannya membuat Senja mencicipi asam manis kehidupan yang tak pernah dapat terlupakan. Tentang pertemanan, musik, dan seseorang dari masa lalu yang kembali muncul di depan matanya. Akan tetapi ia juga tak pernah menduga akan ada bom waktu yang tak pernah diduga Senja dilepaskan oleh kedua orangtuanya.
All Rights Reserved
#715
college
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • peluk yang ku rindu
  • Jejak Luka Di Bawah Langit Senja
  • Satu Hati yang Kuberi Cinta
  • LANGIT SENJA  (End)
  • SELESAI (Say Goodbye)
  • ALEYA~~
  • My Duchess / End
  • Lembayung Cinta di Langit Senja
  • Badgirl Vs Ketos(ongoing)
  • ANTAGONIS MOTHER || REVISI

Senyumnya terpatri di langit senja, suaranya lirih menyatu dengan angin yang menyapu dedaunan. Aku mencarinya dalam keheningan malam, dalam wangi tanah basah sehabis hujan seakan ia baru saja melangkah pergi, tetapi tak pernah kembali. Rumah yang dulu hangat menjadi sunyi. Aku mencarinya di antara lemari kayu tua, dalam lipatan kainnya yang masih menyimpan aroma kasih. Aku menelusuri jejaknya di dapur yang kini dingin, pada sendok yang tak lagi ia genggam. Kehilangan bukan sekedar tiadanya raga, tetapi kehampaan yang merayap di sudut-sudut hati. Namun, di antara air mata, aku belajar bahwa ia tak benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam setiap doa, dalam kehangatan yang di tinggalkannya, dan dalam hati yang terus menyebut namanya. Sebab yang benar-benar pergi hanyalah raga, sementara kasih sayangnya akan selalu abadi. DI LARANG PLAGIAT!!!!!❌❌❌ TYPO BERTEBARAN

More details
WpActionLinkContent Guidelines