Teriakan para penggemar masih terdengar dari kejauhan, suasana di tempat konser cukup dingin, hujan deras di luar sana, mengguyur kota seakan-akan tidak akan reda dalam waktu dekat. Para penggemar di luar stadion berdiri dengan paying dan jas hujan plastik warna-warni, memikirkan cara untuk pulang ke rumah masing-masing. Mobil van hitam diperuntukkan bagi para anggota sudah terparkir di depan pintu keluar, khusus untuk para idola. Seseorang dengan rambut pirang, ramping dengan kulit porselen mirip dengan rubah, berlari keluar dan masuk ke dalam mobil. Ada 2 anggota lain di dalam mobil van itu, 3 anggota lainnya menaiki mobil satunya. Mereka tetap diam karena mereka mungkin tahu atau tidak apa yang sedang terjadi. Lelaki berambut pirang itu menyeka pipinya, menghapus jejak air mata. Beberapa menit kemudian, seorang pria dengan rambut hitam dengan tubuh tinggi proporsional serta kekar, keluar dari pintu khusus dan masuk ke dalam mobil van yang sama dengan lelaki berambut pirang. Dia duduk di samping lelaki rubah itu, tetapi menjaga jarak yang cukup jauh satu sama lain. Mereka berpegangan tangan dengan erat dan saling tersenyum.
Jeno dan Renjun sudah bersama sejak kecil-selalu satu sekolah, satu lingkup pertemanan, dan kini satu atap dalam apartemen kecil mereka. Awalnya, tinggal bareng terasa seperti keputusan praktis: hemat biaya, nyaman, dan tanpa risiko sekamar dengan orang asing. Tapi perlahan, batas antara kebiasaan dan perasaan mulai kabur. Dari pertengkaran kecil soal cucian piring hingga momen kebersamaan yang terasa terlalu dekat, mereka mulai mempertanyakan, apakah yang mereka bagi selama ini sekadar persahabatan... atau sesuatu yang lebih dari itu?