Perihal Lara; Takdir Tuhan yang Jenaka

Perihal Lara; Takdir Tuhan yang Jenaka

  • WpView
    Reads 1,084
  • WpVote
    Votes 64
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 29, 2024
❝Ayah, ayo pulang. Mas Mahen dan Bang Laut sudah menunggu kepulangan bapak dari dulu....❞ Berkali-kali Dipta mencoba untuk meyakinkan kepada dirinya sendiri untuk tidak pernah sekalipun penasaran dengan figur yang biasa orang-orang panggil dengan sebutan Ayah. Namun sia-sia. Sedari kecil, Dipta hanya bisa membayangkan dan menerka-nerka bagaimana sifat asli dan watak orang itu, karena sedari dulu Dipta hanya pernah mendengarkan kisah Ayah melalui cerita yang Sang Bunda ceritakan saat malam datang menjemput. Tetapi semakin lama, Dipta semakin ingin bertemu tatap dengan Ayah. Rasa penasaran Dipta terhadap Ayah terlalu tinggi hingga seolah tak bisa lagi untuk dibendung. Dipta hanya mempunyai satu foto seorang lelaki berseragam tentara yang tengah menggendong dirinya yang saat itu masih dipakaikan bedong bayi, dan Sang Ibu berkata bahwa ayah pergi meninggalkan Dipta karena tugas penting yang harus Sang Ayah lakukan, dan pergi sangat jauh dari rumah bernaung mereka. Sampai suatu hari, saat Tuhan mengabulkan doa yang selalu dipanjatkan untuk dipertemukan dengan Ayah, Dipta kecewa, pemandangan yang ada di hadapannya saat semesta mempertemukan dia dengan sosok yang digadang-gadang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa itu ternyata tak seperti apa yang dirinya bayangkan selama ini. Membuat hatinya sakit, membuat lidahnya kelu hingga tidak bisa mengeluarkan sepatah dua patah kata pun. Ayah mengingkari janji untuk menemui istri dan anak-anaknya. Bapak telah berkhianat. Dan sejak itu pula, Dipta sudah dijatuhkan dengan harapannya sendiri, harapan yang selalu ia junjung tinggi-tinggi dan selalu ia percayai, kini pupus, hangus tak tersisa. "Dipta tidak punya Ayah, Dipta cuma punya Bunda." "DIPTA BENCI AYAH!" ⚠️DIAMBIL DARI KISAH NYATA SESEORANG, TIDAK ADA SEDIKITPUN UNSUR PLAGIARISME ⚠️ Start: 17/9/2024 Finish: - © Copyright, 2024
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jovanka dan Abang Kembar
  • Eshal Renjana (Lengkap)✔
  • Sulung
  • Hai, Selesai.
  • Renjana [COMPLETED]
  • 7DREAM | Transmigrasi Jeno ✓
  • [1] A Thousand Dreams ✓
  • KARAFERNELIA
  • CEMARA PUNYA ASA

Hendra dan Narendra Dewantara terlahir dengan beban yang tak mereka mengerti. Sejak kecil, mereka harus mendengar bisikan-bisikan bahwa mereka adalah anak pembawa sial. Namun, di balik semua itu, mereka masih memiliki kasih sayang dari kedua orang tua mereka-setidaknya hingga bayi kecil itu lahir. Jovanka, adik bungsu mereka, hadir ke dunia dengan membawa perubahan besar. Kehadirannya mengubah segalanya. Orang tua mereka, Dewantara dan Cinthya, yang dulu begitu menyayangi mereka, perlahan menjauh. Semua perhatian, semua kasih sayang, semua harapan yang dulu diberikan untuk mereka, kini hanya tertuju pada satu sosok-Jovanka. Hendra dan Narendra tumbuh dengan kebencian yang tak mereka pahami. Bagi mereka, Jovanka adalah alasan mereka kehilangan orang tua. Bayi mungil itu adalah penyebab semua kehancuran. Maka, tanpa sadar, mereka ikut menjauh. Mereka membiarkan adik mereka tumbuh sendirian dalam dingin, tanpa pelukan hangat seorang kakak. Namun, waktu mengajarkan mereka banyak hal. Perlahan, kebenaran terungkap. Luka yang selama ini mereka kira milik mereka saja, ternyata juga terukir dalam diri Jovanka. Dan saat mereka menyadari itu, sudah terlambat. Adik mereka telah berjalan terlalu jauh dalam gelap, terjebak dalam luka yang tak pernah mereka lihat. Kini, di antara penyesalan dan keinginan untuk menebus segalanya, Hendra dan Narendra berjanji. Mereka tidak akan membiarkan Jovanka menghadapi semuanya sendirian lagi. Tidak peduli berapa banyak duri yang harus mereka lalui, tidak peduli seberapa terlambat mereka menyadarinya-mereka akan memastikan adik mereka tidak lagi merasa sendirian. Namun, apakah cinta dan penyesalan cukup untuk menyembuhkan luka yang telah terukir begitu dalam? Ataukah semua ini sudah terlambat? Karena tak peduli seberapa besar keinginan mereka untuk melindungi, pada akhirnya hanya ada satu pertanyaan yang harus dijawab: apakah seorang pangeran yang telah kehilangan mahkotanya masih bisa menemukan rumahnya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines