HEARTBEAT OF THE OLYMPICS

HEARTBEAT OF THE OLYMPICS

  • WpView
    LECTURI 8
  • WpVote
    Voturi 1
  • WpPart
    Capitole 1
WpMetadataReadÎn curs de desfăşurare
WpMetadataNoticeUltima publicare joi, dec 19, 2024
WpInfo
Ficțiune
Științifico-fantastic
"Siap memulai persaingan, Meera?" Suara yang familiar membuat Meera menoleh. Zyan, berjalan di sampingnya dengan satu tangan menggenggam tas di punggungnya dan satu tangan yang dimasukkan kedalam saku celana. Meera menjawab dengan nada datar, matanya menatap lurus ke depan. "Ketidaksiapan tak ada di kamus hidupku," terangnya, menekankan kata kamus dengan sedikit penekanan. "Dan aku tak pernah takut kalah, Zyan." Zyan terkekeh pelan, "Kau selalu seperti itu, Meera. Berani dan tak kenal takut. Tapi ingat, persaingan kali ini berbeda. Tantangannya lebih besar, dan aku tak akan mudah menyerah." Meera mengangkat dagu, "Kau pun tak akan mudah menang, Zyan. Kita akan bertarung hingga titik darah penghabisan." Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas, aura persaingan terpancar dari setiap langkah mereka. Perang dingin yang telah berlangsung selama bertahun-tahun ini akan mencapai puncaknya. Kali ini, tak hanya gelar juara yang dipertaruhkan, tapi juga harga diri dan ambisi mereka.
Toate drepturile rezervate
#150
keberanian
WpChevronRight
Alătură-te celei mai largi comunități de povestiri din lumePrimește recomandări personalizate de povești, salvează-ți favoritele în biblioteca ta și comentează și votează pentru a-ți dezvolta comunitatea.
Illustration

S-ar putea să-ți placă și

  • Langkah kecil Shani
  • tentang sebuah rasa
  • The Girl I Loved, Forever
  • When Two Hearts Collide
  • To Kill a Queen
  • REKSA: The Last Bell
  • N E L A N G S A(END)
  • Asya Amarra [ By astar1913 ]

Shani bukan siapa-siapa di sekolah barunya. Pendiam, penyendiri, dan selalu menunduk saat berjalan di koridor. Sejak awal semester, dia menjadi sasaran olokan-karena caranya berpakaian, karena tak pandai bersosialisasi, bahkan hanya karena dia berbeda. Tidak ada yang benar-benar peduli, hingga satu hari, seorang siswa bernama Gracio memutuskan untuk duduk di bangku sebelahnya tanpa berkata apa-apa. Gracio bukan pahlawan. Ia hanya seseorang yang juga menyimpan luka, tapi tak tahan melihat seseorang hancur tanpa alasan. Dalam diam dan langkah kecil, keduanya mulai membangun dunia yang hanya mereka pahami-dunia di mana tidak ada ejekan, hanya dukungan dan keberanian untuk bertahan.

Mai multe detalii
WpActionLinkLinii directoare referitoare la conținut