Aurora di dunia atlas

Aurora di dunia atlas

  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 30, 2024
"Hai, cantik," sapa Randy dengan nada menggoda. "Nggak takut sendirian di sini?" Aurora langsung merasa nggak nyaman, tapi Randy dan teman-temannya udah ngerubungin dia. "Maaf, aku lagi nyari kucing," jawab Aurora gugup, wajahnya memerah karena gugup. "Kucing? Di sini?" Randy ketawa mengejek. "Nggak usah malu-malu, cantik. Kita bisa tunjukin tempat-tempat menarik di sini." Tiba-tiba, Atlas muncul di hadapan mereka dengan wajah dingin. Sorot matanya tajam, seperti elang yang siap menerkam mangsanya. "Kalian ngapain?" tanya Atlas dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk mereka berdiri. Randy langsung ngerasa kesal karena Atlas ikut campur. "Ini urusan gue, Atlas! Lo nggak usah ikut campur!" "Kenapa, takut pacarku diculik?" tanya Atlas dengan nada menantang, sorot matanya makin tajam. Semua orang yang ada di sekitar mereka langsung mendekat, penasaran sama keributan yang terjadi. Roni, yang merupakan anggota "The Shadows",merasa tidak tenang, dia langsung menerobos kerumunan, melihat kejadian itu dengan jantung berdebar kencang. Dia sangat merasa kesal, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tau kalau ketuanya tau tentang Aurora, bisa-bisa Aurora juga ikut celaka. Atlas, yang melihat Roni ngeluh, langsung ngomong, "Dia pacar gue. Masalah selesai, kan?" Randy tidak percaya. "Pacar lo? Buktiin!" Atlas tanpa pikir panjang, langsung mencium bibir Aurora di depan semua orang. Aurora kaget, matanya membulat sempurna, pipinya langsung memerah. Atlas langsung meluk dia erat, seolah melindungi Aurora dari tatapan mata mereka. "Sekarang lo percaya?" tanya Atlas dengan nada dingin. Randy dan semua orang yang ada di sana langsung terdiam. Mereka tau kalau Atlas terkenal dingin dan tidak pernah cium cewek sembarangan. Mereka langsung percaya kalau Aurora memang pacar Atlas.
All Rights Reserved
#103
aurora
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • How to Survive
  • Summer Triangle  (Revisi)
  • PERFECT BAD COUPLE (TERBIT)
  • ELARD DAN ZIA (ENDβœ…)
  • [Bukan] Couple Goals [SUDAH TERBIT]
  • R&N (ON GOING)
  • Goodbye November
  • The Quest Of Love [Re-upload]
  • ALSTARAN [END]

Riri menyibakkan rambut hitamnya, "persediaan makanan kita menipis. Kita gak bisa bertahan terus di sini." "Tempat yang paling deket dari sini, ke mana?" Abil membersihkan kacamatanya dengan ujung hijab yang sudah tak dicuci berhari-hari. "Supermarket di tengah kota," Azura menjawab dingin sambil menatap kedua orangtuanya terkurung di balik pintu kamar mandi. Pupil Bian mengecil. Semua orang tahu apa yang akan menjadi keputusan Abil. Seketika si gadis tomboy berdiri. "Supermarket itu terlalu luas dan bahaya. Jangan tolol! Nyawa kita cuman satu!" Nawa mengangguk cepat, wajah memerah menahan tangis, napasnya memburu, "aku gak mau ke supermarket! Gak! Gak mau!" "Terus mau gimana? Mati perlahan di dalam sini? Mikir dong! Jangan karena takut, kalian milih mati kelaparan. Perlu ada kanibalisme dulu baru mau keluar?" Mata Abil memerah penuh gelora emosi dari balik kacamata yang engselnya patah akibat pukulan Bian minggu lalu. Azura memutar matanya malas, situasi sialan ini membuat semua orang lebih sensitif. "Udah-udah!" Nayara melerai. "Memungkinkan gak kalau kita cek ke rumah-rumah sekitar? Siapa tau Alex di sana masih tingkat 1. Bian bener, supermarket terlalu luas dan beresiko. Kita coba cari dulu di rumah sekitar, kalau gak ada, baru kita ke supermarket." Seketika ruangan senyap mencerna kalimat Nayara yang selalu bisa menengahi perdebatan mereka. "Jadi, guys sekarang mereka masih diskusi-" "LETTA!!" Bentakan teman-temannya langsung menyentak si gadis ikal. "Le, matiin," pinta Nayara sambil memberi tempat kosong untuk Letta. *** Hidup para remaja itu berubah ketika penyakit tidak jelas mulai menjelajah kota Bandung. Hidup berbulan-bulan tanpa orang tua dengan pola pikir yang masih kekanak-kanakan. Bagaimana cara mereka bertahan hidup dengan 7 kepribadian yang saling bertentangan? Bertemu dengan banyak orang dan berbagai kejadian. Merubah masing-masing mereka jadi sosok lain. Berhasilkah mereka bertahan hidup? Atau semua kembali pada keputusan mereka?

More details
WpActionLinkContent Guidelines