DERIVIA ; Innocent Scorn.

DERIVIA ; Innocent Scorn.

  • WpView
    Reads 2,299
  • WpVote
    Votes 1,221
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 9, 2025
Derick berpikir bahwa dengan kematian kedua orang tua Olivia -juga dengan memperlakukan Olivia dengan buruk, akan membuat dendamnya terbalaskan. Rencana awal ingin menyiksa gadis itu sebelum membunuhnya, Derick justru terjebak dalam kebodohannya sendiri. Ternyata semua yang ia lakukan selama ini adalah salah. Sangat salah. Kebenaran yang selama ini tersembunyi, terungkap satu-persatu berkat bantuan Rangga dan para sahabatnya. Ingin meminta maaf? Ya, tentu saja. Tapi, apakah Olivia akan memaafkan semua kesalahannya yang sudah melampaui batas? Seiring dengan penyesalan dan tekad Derick untuk meminta maaf, perasaan aneh mulai tumbuh dalam dirinya. Perasaan untuk melindungi dan menyayangi gadis yang menurutnya lemah itu. ------------------------------------------ ⚠ WARNING : Harsh words, Insults, and Violence .
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Prince Yaspian; The secret of Yaspian life
  • 𝐀𝐋𝐙𝐇𝐄𝐈𝐆𝐀𝐑𝐀
  • Queenza (End)
  • VINDICTA [TELAH TERBIT]
  • The Sexy Lecturer Is Mine
  • Trust Me
  • TACENDA [HiraetH] Revisi
  • My Psycopath Man (Sudah Terbit)

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines