Tentang Dia

Tentang Dia

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Nov 10, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Prolog. Dia datang tanpa aba-aba, seperti angin sore yang tiba-tiba membawa aroma hujan pertama. Sosoknya tinggi, langkahnya tenang, dan senyumnya... entah bagaimana, selalu berhasil membuat waktu seolah berhenti. Aku tak pernah tahu bagaimana seseorang bisa terasa begitu asing, namun di saat yang sama, begitu akrab. Dia adalah "pertama" bukan hanya dalam hal cinta, tapi juga dalam belajar mengenal kehilangan, rindu, dan diam yang tak sempat dijelaskan. Ia tidak banyak bicara, tapi tatapannya seperti menyimpan rahasia yang tak pernah bisa kuterka. Kini, setelah jarak dan waktu membuatnya tampak seperti bayangan samar di ujung ingatan, aku masih sering bertanya-tanya: apakah dulu aku benar-benar mengenalnya, atau hanya jatuh cinta pada misteri yang ia ciptakan?
All Rights Reserved
#36
luarbiasa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BEST OF US - TERBIT CETAK
  • Dunia Davin
  • Senyum dan Usaha : Kisah Kita
  • Silent, Please! (Re-up)
  • Dusk In Your Eyes
  • Snow Man (ON GOING)
  • Hidup di Dalam Bayangan
  • Excessive Obsession
  • Fierce Love

TERSEDIA DI TOKO BUKU SEBAGIAN PART SUDAH DIHAPUS Aku nggak mengerti bahwa sebuah kisah cinta bisa seperti ini. Sungguh, dulu aku hanya gadis polos yang tak pernah peduli pada cinta sejati. Di dunia ini, hanya ada 2 pria yang tadinya kupikir akan jadi pendamping hidupku: dr. Riza yang maha sempurna atau fotografer terkenal, Jerro Atma. Tapi lihat sekarang apa yang kulakukan. Galau habis-habisan menunggu orang yang tak pernah kuperhitungkan pulang ke Indonesia. Pria brengsek yang menjadikanku pacarnya dua jam sebelum keberangkatannya ke Amerika. Gila kan? Mana katanya dia akan sering-sering pulang? 6 bulan sekali my ass! Sudah hampir 2 tahun dan dia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda dia mau pulang. Tapi sudahlah. Toh memang aku sendiri yang gila, mau-mau saja menunggunya. Ya bagaimana, namanya juga sayang. Kupikir mudah saja menunggu. Ngomong-ngomong, aku cukup jago dalam mempertahankan perasaan. Tapi baru kali ini aku sadar, bahwa menunggu dan bertahan tak semudah kelihatannya. Apalagi, saat kamu tidak tahu yang sebenarnya apakah dia layak ditunggu atau tidak. Dan saat kamu sibuk bertanya-tanya, ada orang lain yang punya jawaban masuk akal. [Lanjutan dari When You Tell Me That You Love Me]

More details
WpActionLinkContent Guidelines