The Last

The Last

  • WpView
    Reads 108
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 14, 2025
"Makasih yaa" ucap Zura "Makasih buat apa? " tanya Sean "Makasih atas motivasinya ya , San. Makasih, udah bikin aku sampai sejauh ini. Aku sangat berterimakasih atas pertemuan dan kebersamaan yang pernah kita lewati " Ucap Zura, seraya menahan tangis nya Sandy bergeming tak tau akan mengucap apa. Dia ragu akan apa yang ia rasakan. Dia ragu, tebakan nya tentang Zura benar atau salah. "udah, cuma itu ajah. Aku janji gak akan ganggu kamu lagi, San. Cuma kali ini ajah. Assalamu'alaikum, San" Lirih Zura. "Wa'alaikumsalam, Zura" Jawab Sandy, lirih. Ia tak menyangka bahwa Zura memilih semua keputusan itu karna dirinya, ia tak tau akan berkata apa. Ia bingung dengan kejadian malam ini. Seseorang yang ia kenal tak pernah dekat dengan laki-laki manapun, memberanikan diri meneleponnya . Entah ada apa dengan Zura. Ia masih tak paham, sebab kejadiannya terlalu cepat. Sean masih termangu, dalam kalutnya ia merasa ada gumpalan hitam yang membendung. Gumpalan berupa harapan. Entah harapan ini masih ada atau sudah berakhir.
All Rights Reserved
#536
komedy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Reynand & Joya | END
  • No Longer Mate
  • When Two Hearts Collide
  • Feel My Heart, Neo [Na & Neo]
  • 𝑲𝒂𝒇𝒆𝒊𝒏𝒎𝒖! ♥︎
  • Before Us✓
  • Heart to you.(END)
  • GALANG [SELESAI]
  • Ellara Le Runa
  • TANEESHA

Follow sebelum baca yuk, untuk mengikuti ceritanya. #645 dalam TEEN FICTION-11/3/2018 #961 dalam TEEN FICTION-9/2/2018 "Kuda poni! Dasar jelek, sinting, kutu kupret, tai lo. Maju sini, gue telen lo hidup-hidup!" teriak Joya mengerahkan semua kekesalannya. Ia bersumpah serapah tanpa berpikir mengampuni orang yang sudah membuat hidupnya sengsara. "Nggak usah teriak-teriak, gue di sini." Suara orang tersebut berada di atas pohon dekat parkiran. Reflek, kedua gadis itu menengadah, menatap pemuda nakal yang nangkring di atas sana. "Turun lo!" perintah Joya seraya berkacak pinggang. "Mau apa? Mau cium gue, ya? Idih nakal." Pemuda itu malah membuat Joya semakin kesal. Ocehannya selalu saja ampuh membuat hari-hari gadis itu semakin runyam. "Najis. Mati aja lo, pengecut!" Joya masih kesal, sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu tidak terkontrol. "Kurang banyak sih, 'kan cuma kempes, nggak sampai penyok." Rutinitas nakalmu berujung terbiasa. Kalo pengen tau terutama Baca selengkapnya ya..... (Di larang mengutip atau menjiplak sebagian/keseluruhan cerita ini tanpa izin)

More details
WpActionLinkContent Guidelines