LAUT CINTA || segera hadir

LAUT CINTA || segera hadir

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Sep 25, 2024
kisah perjalanan asterisma saverine seorang remaja yang baru memasuki usia 20 tahun. dimana hidupnya yang hampa akhirnya kembali berwarna karena menemukan seorang lelaki yang menjadi crayon hidupnya itu. zevano andrean seorang lelaki manis berkulit putih tampan itu sayangnya memiliki sebuah penyakit yang sudah ia idap dari kecil. seorang lelaki yang tidak memiliki ibu dalam hidupnya. lelaki sebatang kara itu akhirnya kembali tersenyum saat mendapati wanita hebat. "tersenyumlah.Bukan dunia atau kamu yang jahat. semesta sudah menemukan episode bahagiamu yang pasti akan ditayangkan sebelum kamu mati"-Aster "kenapa putus asa? semesta juga tau kamu bisa. mungkin belum waktunya saja. berjuanglah dan berjanji kamu sukses karena kerja kerasmu"-vano "laut indah sebelum dia merenggut seluruh kebahagiaan dan semestaku"-aster "seandainya kehidupan selanjutnya benar ada aku ingin bertemu kamu lagi sebagai istriku"-Vano
Creative Commons (CC) Attribution
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Secarik Kertas Pengantar Tidur
  • Yes! Mr. Husband | TERBIT✓
  • PUSPAJALA (Hiatus)
  • Arsen dan Fluorine ✔
  • 𝐋𝐚𝐤𝐬𝐚𝐧𝐚 𝐁𝐢𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐫𝐞𝐝𝐮𝐩 (𝐓𝐚𝐦𝐚𝐭)✔️
  • EDAMAME [TAMAT]
  • [4] My Lady [SUDAH DITERBITKAN]
  • ✔ Lovemorphosa [completed/revised]
  • Our greatest world Papa chap.2
  • ALZEA : FEATURED SOULS [END]

Kini malam adalah sahabat sekaligus algojo bagi Naka. Seribu sembilan puluh lima kali matahari telah terbenam sejak hari itu-seribu sembilan puluh lima kali kegelapan datang menghampiri, membawa serta kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Dia mencoba segalanya. Minum susu hangat sebelum tidur. Menghitung domba hingga angka yang tak masuk akal. Bahkan meminum pil tidur yang membuat kepalanya berat seperti batu. Tapi tak satu pun berhasil mengusir bayangan itu-bayangan seorang wanita dengan senyum yang dulu mampu menerangi kegelapannya. "Tuhan," desisnya malam ini, suaranya parau seperti kertas yang tergores. "Aku mohon... biarkan aku tidur tanpa mimpi. Hanya untuk sekali ini saja." Bantalnya basah sebelum ia menyadari air mata yang mengalir. Tangannya mencengkeram erat-erat kain itu, seolah takut suara hatinya yang pecah akan terdengar oleh dunia. Tiga tahun. Waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka, kata orang. Tapi mengapa lukanya justru semakin dalam? Bertemu Vanya dulu seperti menemukan oasis di tengah gurun kehidupan. Wanita itu memberinya warna-warna yang tak pernah ia kenal sebelumnya-kuning cerah tawa mereka di Bromo, biru tenang obrolan larut malam, merah jambu pipi Vanya saat marah. Tapi sekarang? Semua berubah menjadi abu-abu. Kenangan itu berubah menjadi kutukan. Setiap kali ia menutup mata, yang terlihat adalah wajah Vanya yang hancur saat terakhir kali mereka bertemu. "Kalau ini yang terbaik untukmu, Nak, aku ikhlas." Dan kebodohan-oh, kebodohannya yang tak termaafkan! Malam ini, Naka menyerah. Dia mengambil buku kecil yang tersembunyi di bawah bantal-saksi bisu dari semua penyesalan yang tak terucap. Halamannya sudah keriput oleh air mata dan jari-jari yang gemetar. Naka menutup buku itu perlahan, seperti menyimpan kembali potongan jiwanya yang tercecer. Di luar jendela, Jakarta masih berdenyut dengan lampu-lampunya yang tak pernah tidur. Tapi di kamar ini, yang ada hanya seorang lelaki dan malam yang tak pernah benar-benar berakhir.

More details
WpActionLinkContent Guidelines