Satu Atap, Delapan Cerita

Satu Atap, Delapan Cerita

  • WpView
    Reads 174
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 30, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
‼️FOLLOW AKUN AUTHOR SEBELUM MEMBACA‼️ Delapan saudara, satu rumah, dan segudang cerita. Dari tawa hingga tangis, pertengkaran hingga pelukan, mereka menghadapi hari-hari dengan segala warna kehidupan. Setiap sudut rumah itu menyimpan rahasia, mimpi, dan perjuangan mereka untuk saling memahami di tengah perbedaan yang kadang membuat jarak. Delapan saudara dengan usia yang masih belasan tahun, hidup dalam satu rumah besar penuh kisah. Mereka berbeda-dari sifat, impian, hingga cara mereka menghadapi tantangan sehari-hari. Inilah perjalanan penuh gelak tawa, air mata, dan kehangatan, yang membuktikan bahwa keluarga selalu menjadi tempat untuk pulang, meski badai menghempas. (Pls, no copyright) By: Ivyzuraa - Indonesia
All Rights Reserved
#500
perjalanan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • Dua Puluh Menit [END]
  • Deberìa Redirme? (End)
  • VOYAGE
  • ALGARENDRAS [SELESAI]
  • X = Savior✔
  • Our Emergency Calls
  • KenZian [END]

Di sebuah rumah yang lebih sering berisik oleh bentakan daripada tawa, tiga anak tumbuh dari puing-puing cinta yang retak. Ara, si sulung yang belajar menjadi atap saat bapaknya lebih sering pergi ketimbang tinggal. Rei, anak tengah yang mencoba menjadi lelaki tanpa pernah punya contoh. Dan Zea, si bungsu yang bersembunyi di balik boneka bermata satu sambil bertanya dalam hati: "Apa semua rumah seperti ini?" Saat rumah yang dulu mereka sebut "pulang" tak lagi memberi tempat, satu per satu dari mereka harus memilih: tinggal dalam reruntuhan, atau membangun sendiri pondasi baru-meski dengan tangan gemetar. Ini bukan kisah keluarga yang sempurna. Ini kisah tentang bertahan meski tidak utuh, tentang anak-anak yang tak ingin mewarisi luka orang tuanya. Dan tentang keberanian untuk berkata: "Ledakan itu berhenti di sini." Karena tumbuh dari kehancuran... bukan alasan untuk mencintai dengan cara yang menyakitkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines