Mistaken Beliefs (SUDAH TERBIT)

Mistaken Beliefs (SUDAH TERBIT)

  • WpView
    Reads 367
  • WpVote
    Votes 47
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Oct 8, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
"Dibayar berapa kamu sama Papa, hah?" Saga menyudutkan posisi Ara ke tembok. Satu tangannya mencengkeram erat kerah kemeja kekasihnya tersebut, sehingga membuat Ara seperti tercekik. Ara kesulitan bicara. Tenggorokannya tercekat karena tekanan jemari Saga yang begitu kuat. Tangan kirinya berusaha melepaskan cengkeraman Saga, sedang tangan kanannya menepuk-nepuk punggung tangan laki-laki itu. "Jawab!" sentak Saga. Matanya berkilat merah, memancarkan gurat amarah sekaligus sedih yang bercampur menjadi satu. "Lep-lepas, Ga. Denger penjelasan aku dulu," pinta Ara dengan suara terbata-bata. Dia memejam seiring dengan luruhnya butiran kristal dari kedua sudut mata. "Apa lagi? Udah jelas kalau kamu cewek simpenan Papa! Kamu udah ngerusak keharmonisan keluarga aku, Ara!" Saga semakin berapi-api. Ara mengangguk perlahan, pasrah. "Oke. Oke kalau menurut kamu kayak gitu. Bunuh aku kalau emang itu mau kamu," lirihnya. Air mata semakin deras membanjiri wajah cantik Karaisa. Apakah Ara akan terus pasrah mendapat perlakuan kasar Saga? Akankah dia menyerah untuk tidak menjelaskan masalah sebenarnya pada sang kekasih? Dan juga, apakah Saga tega menghabisi Ara seperti yang diinginkan gadis itu?
All Rights Reserved
#198
ceritaromantis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Transmigrasi Ziora
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • The Time
  • GHAIKA (REVISI)
  • I'm Not Just a Figuran
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GRAVARENZO
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • Tsundere Maniak Susu

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines