The Thin Line of Duty

The Thin Line of Duty

  • WpView
    Reads 372
  • WpVote
    Votes 98
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 12, 2024
Pembombardiran telah menghancurkan hubungan internasional dan mengguncang Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pertukaran nyawa antara prajurit Rusia dan Ukraina tak lepas dari pandangan Vladlin Romanov-Komandan Spetsnaz. Tekanan perang dari pemerintah dan petinggi membuat warga sipil Ukraina berjatuhan. Politik mulai memanipulasi jalannya perang, pengkhianatan dari dalam pasukan membuat setiap langkah Romanov semakin berat. Kini, ia dihadapkan pada dua pilihan, melanjutkan perintah dan menjaga kehormatannya sebagai prajurit, atau mendahulukan moralitas? Garis tipis itu kini semakin kabur. 60% Fiksi 40% Kisah nyata berdasarkan hasil riset perang Rusia-Ukraina
All Rights Reserved
#78
truestory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Syal Merah
  • Reborn Military Wife Lingren (1)
  • spirited Military
  • The Handsome Jungle Ghost (YOONMIN) (TERBIT CETAK)
  • MAJOR(ILY)
  • The Global War
  • 3 I N T E L I J E N

Lihatlah manusia.... makhluk berakal, katanya, tapi berakal hanya untuk merancang kehancuran dengan cara yang lebih efisien dari iblis manapun. Mereka lahir dengan tangan kosong, namun tumbuh dengan jemari yang tak pernah cukup menggenggam. Satu takhta tak cukup, satu negeri terlalu sempit, satu nyawa tak sebanding dengan harga ambisi. Mereka mencipta Tuhan dari kaca dan bayangan, lalu menjadikannya alasan untuk menyalakan api di rumah sesamanya. Lalu, ketika tubuh hangus terbakar, mereka berkata: "Ini takdir, ini suci." Padahal semua hanya siasat licik, untuk menjarah lebih banyak, menguasai lebih dalam. Di medan perang, tidak ada musuh sejati, hanya cermin-cermin retak yang saling menuduh bayangan masing-masing sebagai setan. Manusia menanam senyum di bibir diplomasi, sementara tangannya menandatangani pengiriman peluru ke tempat di mana anak-anak belajar menyebut "ayah". Dan ketika tanah itu retak oleh ledakan, dan langit pun tak sudi menurunkan hujan, mereka berkumpul di ruang rapat ber-AC, membahas damai yang bisa dijual dengan harga saham. Oh, manusia bukan makhluk sosial- mereka makhluk serigala yang diajari mengenakan jas. Mereka berdiri di atas kuburan sambil berkata: "Semua demi kemajuan." Apa makna "maju", jika harus melangkahi mayat? Apa artinya "kebebasan", jika harus dipaksa dengan moncong senjata? Mereka mencipta kata-kata indah- "perjuangan", "nasionalisme", "pengorbanan", tapi semuanya hanya selimut untuk menutupi nafsu kekuasaan yang menjijikkan. Sejatinya, manusia mencintai kehancuran- sebab di puing-puing itu, mereka bisa membangun kerajaan atas nama harapan, padahal fondasinya dari daging dan darah. Tak ada yang suci dalam perang. Tak ada yang heroik dalam membunuh. Yang ada hanyalah manusia- yang selalu lapar, selalu haus, selalu ingin menjadi Tuhan tanpa pernah bisa menjadi manusia,.

More details
WpActionLinkContent Guidelines