Heliophilia | Johnny Suh

Heliophilia | Johnny Suh

  • WpView
    Reads 2,028
  • WpVote
    Votes 109
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 1, 2026
Musim panas 1973 di McMinnville, Oregon Jonathan Sutton, seorang akademisi berusia 33 tahun, kembali ke kota kecil itu untuk penelitian, berharap menemukan ketenangan di rumah Profesor Sanchez-mentornya yang bijak. Namun, di sana ia bertemu dengan Daisy Sanchez, gadis berusia 16 tahun yang ceria, keras kepala, dan terlalu ingin tahu tentang dunia yang belum sepenuhnya ia pahami. Daisy adalah badai yang datang tanpa peringatan, mengacaukan keteraturan hidup Jonathan dengan tawa, keberanian, dan tatapan penuh godaan yang seharusnya tak ia hiraukan. Sementara itu, Jonathan adalah misteri yang tak bisa diabaikan oleh Daisy-seseorang yang mengingatkannya pada kehidupan yang lebih besar daripada kota kecil tempat ia terjebak. Apa yang seharusnya menjadi interaksi biasa perlahan berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Sebuah tragedi yang indah sekaligus mengerikan, di mana cinta bisa terasa seperti sinar matahari yang hangat, tetapi juga cukup membakar hingga hanya menyisakan abu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • It's Always Been You✔️
  •  SEETHE - Never care who's her, just know that you loved me, Sir.
  • NOONA  ✔
  • 00.07 WIB [SELESAI]
  • Sebelum Pelukannya Membuatku Tertidur
  • Oh!, My Ahjussi (M)
  • Between Our World [END]
  • MEMORABLE [COMPLETE]

Winter, gadis skater serba bisa dari Thunder Clan, merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk ketika papanya tiba-tiba meminta, atau lebih tepatnya memaksanya untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah keluarga teman orang tuanya. "Kalau adek nggak mau, papa bakal bakar semua deck yang rapi tertata di kamar adek sampai jadi abu." Ancaman itu langsung menusuk hati Winter. Deck-deck itu bukan sekadar papan luncur. Mereka adalah bagian dari dirinya, saksi setiap kompetisi dan penopang semangatnya. Mana mungkin ia membiarkannya jadi korban amukan sang papa? Dengan terpaksa, ia pun menyanggupi pekerjaan itu meski artinya harus membagi waktu antara kuliah di Universitas Kwangya dan mengurus rumah keluarga majikannya. Merawat empat anak di rumah itu sebenarnya bukan tantangan besar untuk Winter. Ia bisa dengan mudah mengatasi kelakuan si kembar usil, Jisung dan Ningning yang berusia tujuh belas tahun, juga kepolosan Sakuya yang berusia sebelas tahun dan si kecil Ian yang baru enam tahun. Semua terasa terkendali kecuali satu hal: Jaemin, si sulung yang tampaknya menjadikan Winter sebagai target utama untuk mencari-cari kesalahan. "Bener kamu jago masak? Yakin nggak bakal mati kalau makan masakan kamu?" "Otaknya pinter atau nggak sih? Sayang banget masa muda kebuang percuma. Kamu nggak minat nyambung kuliah?" "Baru pagi-pagi aja udah ngilang. Kamu ke mana emang?" Sumpah, kalau saja Jaemin bukan anak majikannya, Winter sudah lama melibas pria itu dengan deck kesayangannya. Menyebalkan bukan main. Namun, di balik semua adu mulut dan tatapan sinis itu, ada sesuatu yang samar. Perasaan yang pelan-pelan menyusup, tapi tak mungkin mereka akui. Di tengah kesibukan menjadi mahasiswa sekaligus satu-satunya gadis di Thunder Clan, mampukah Winter bertahan menghadapi kelakuan Jaemin yang seakan bisa meruntuhkan dunia? Dan apa yang akan terjadi ketika Jisung, Ningning, Sakuya dan Ian mulai menganggap Winter sebagai kakak mereka sendiri?

More details
WpActionLinkContent Guidelines