Lean On Me

Lean On Me

  • WpView
    Reads 104
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 11, 2025
Kehidupan tidak selalu berjalan mulus seperti yang kita inginkan. Dulu tak akan sama dengan saat ini. Begitulah yang dialami oleh Nana. Masa kecil yang dipenuhi dengan keharmonisan keluarga, kasih sayang, rengekan manja seorang putri bungsu, segala sesuatu yang selalu dipenuhi, juga kisah cinta petama yang berjalan romantis, harus sirna dalam semalam karena sebuah insiden tragis dan memilukan. Sementara itu, Jonathan yang sejak kecil tidak pernah merasakan kehangatan dari kedua orang tuanya yang hanya ingin terlihat sempurna di depan publik, harus menerima kenyataan bahwa perceraian dan keretakan rumah tangga kedua orang tuanya akhirnya terjadi. Ia harus menelan kenyataan pahit bahwa mulai saat ini dirinya akan hidup seorang diri, yang meskipun sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang sudah ia alami selama ini. Tapi setidaknya, jika dulu Jonathan akan selalu bersandar pada Nana, kini ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Tujuh tahun lamanya ia berpisah dengan gadis itu, dan dipertemukan kembali dengan keadaan yang berubah 180 derajat. "Na, pasti berat, kan, selama ini?" "Kak, pasti berat juga buat lo, kan?" "Mulai sekarang ayo kita saling bersandar satu sama lain. Lo bisa percaya sama gue, Na." ©destiny14723, Dec 2024
All Rights Reserved
#139
perkuliahan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • ARKALYA (END)
  • NATHA: AFTER SHE GO || ON GOING
  • ANATHAN  || END
  • Aku dan Luka [Sudah Terbit]
  • ARIANA ( Lengkap )
  • (N)ever Be Real [END]
  • Breathe
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines