SEMUSIM

SEMUSIM

  • WpView
    Reads 25
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 19, 2024
"Matahari mulai tenggelam, memancarkan cahaya keemasan yang menyinari wajah Anya dan Bumi. Mereka duduk berdampingan di tepi pantai, menikmati deburan ombak dan semilir angin laut. Dalam keheningan itu, Anya merasa begitu dekat dengan Bumi, seolah-olah mereka adalah satu jiwa."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Awan Abu-Abu [END]
  • Malam Dan Bintang Kita
  • Laut dan Langit
  • Derana Duka (lengkap)
  • Kebohongan Terbesar
  • Mas [completed]
  • Nirmana Lila | Tamat
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • epilog tanpa prolog

Sinar rembulan memang lebih indah daripada harta yang gemilang. Uang memang bisa membeli apa yang diinginkan. Akan tetapi, uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Jalan halus yang penuh dengan gelombang, terus dilewati meski ada rasa bimbang. Akankah matahari memancarkan cahaya kehangatannya? Akankah bulan bersinar menerangi gelapnya dunia? Akankah bintang-bintang bermunculan menemani kegelapan di atas keheningan yang ada? Atau hanya awan hitam yang menghampiri, tanpa adanya seseorang yang menemani? "Dulu ... kita pernah sedekat amplop dan perangko, semesra pena dan kertas. Namun kini, 'tak jauh berbeda dengan bulan dan bintang. Terlihat berdekatan, namun 'tak dapat bersatu." - Georgino Arkana Putra "Lo bilang senja itu hal yang paling indah. Nyatanya dia malah menjadi saksi dari akhir kisah kita." - Neyara Abigail Gueni

More details
WpActionLinkContent Guidelines