Backstreet: Life After Breaking Up

Backstreet: Life After Breaking Up

  • WpView
    LECTURAS 149,381
  • WpVote
    Votos 8,704
  • WpPart
    Partes 19
WpMetadataReadConcluida jue, jul 2, 2026
WpInfo
Ficción
Romance
"Let's break up, Mas." Kepalanya yang tadinya menunduk, kini menatap lurus ke arahku dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca. Entah sedang menahan tangis atau menelan rasa penyesalan. "Mungkin Mas emang nggak selingkuh," aku menjeda kalimatku sebentar. "Atau lebih tepatnya belum sempat selingkuh karena terlanjur ketahuan." Dia berusaha menyanggah argumen yang aku berikan, tetapi urung melakukannya karena aku mengangkat tanganku untuk memintanya berhenti. "Tapi sayangnya keduanya gak ada bedanya, Mas." Mati-matian aku menahan air mata yang ingin keluar, tidak sudi untuk menunjukkan kesedihanku pada laki-laki yang terlampau baik ini. "Entah Mas melakukannya atas dasar kebaikan sesama manusia atau perasaan lain yang belum selesai, aku tetap tidak akan mentolerirnya." "Just because you love me, doesn't mean I feel loved by you." "Just because you want to be a good person, doesn't mean you can treat everyone the same." Aku mengambil napas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Karena dalam prinsipku ada batas yang jelas antara pacar dan mantan pacar atau teman."
Todos los derechos reservados
#28
politisi
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Black Rose
  • May I Love You?
  • Plot Twist - Hartono's Fam [END]
  • Look At Me!!!
  • ALBARA - (Jatuh Cinta Itu Lucu)
  • JANUS
  • DikaRanggi
  • BarraKilla
  • Pelakor? Yes, I'm! (BOOK 1)
  • My Summer Love

"Nanti siang Sarah datang. Dia ingin bermain bersama kakaknya." La Lembah memandang pesan singkat di layar ponselnya. Seperti ada yang menaburkan bubuk cabai di kelopak matanya, tetapi air matanya sudah terlanjur kering sejak lama. "Saya anak tunggal." Ketik Lembah. "Jangan egois. Dia adik kamu." Tawanya terdengar, tetapi bukan tawa bahagia seperti yang diharapkan semua orang. Tawa menyakitkan yang syarat akan kesakitan. "Dia anak papa, bukan adik saya." "Berkali-kali saya ingatkan, La Lembah adalah anak tunggal. Tidak punya saudara, termasuk adik dan juga kakak." "Dia anak papa, berarti juga adik kamu." "Dia memang anak papa, tapi bukan adik saya." "Bahkan jika bisa, saya ingin berhenti menjadi anak Anda." Matanya perih, tetapi tak ada satu tetes pun yang ke luar dari sana.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido