Luka Kami

Luka Kami

  • WpView
    Reads 728
  • WpVote
    Votes 231
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 11, 2025
Braga Yuganta (Raga) masih menyimpan tanda tanya tentang alasan kepergian ibunya meski telah berlalu selama 10 tahun. Jauh sebelum menginjak usia 18 tahun, Ayahnya memutuskan untuk menikah lagi kala merasa hidup keluarganya tak lengkap tanpa sosok pendamping serta pengganti Ibu untuk anaknya. Di lain sisi, sikap keras sang Ayah terhadap adik bungsunya juga menjadi persoalan besar bagi Raga untuk tahu apa sebab dibalik semua itu. (Foto-foto yang tertera di tiap bab hanya sebagai ilustrasi situasi/tempat saja)
All Rights Reserved
#757
kekerasan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Luka Yang Tak Bisa Bicara
  • Bukan Cerita Kita
  • ANOTHER JOURNEY | Spin-off IN THE END ✔
  • RAGA
  • My Way [END]
  • Transmigrasi                                                  Raka Andreafa
  • 𝙓𝘼𝘾��𝙄𝙀𝙍𝙔𝘼
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • You Don't Know Me

Raka (16) tumbuh dalam keluarga yang berantakan setelah perceraian orang tuanya. Ibunya, Maya, semakin sibuk bekerja dan menjadi dingin, sementara ayahnya, Danu, menghilang tanpa kabar. Satu-satunya yang masih berbicara dengannya adalah adiknya, Nara (9), tapi Raka sendiri semakin menarik diri dari dunia. Di sekolah, dia pendiam dan tertutup. Sahabatnya, Jodi, mencoba mendekatinya, tapi Raka tak pernah benar-benar terbuka. Dia lebih suka menggambar-menuangkan semua yang tak bisa ia ucapkan ke dalam sketsa. Suatu hari, Raka menemukan surat lama dari ayahnya yang tak pernah sampai kepadanya. Surat itu berisi permintaan maaf dan harapan untuk bertemu kembali, tapi bagi Raka, semuanya sudah terlambat. Keadaan semakin memburuk ketika ibunya, dalam kemarahan, berkata: "Kalau kamu nggak pernah lahir, mungkin semuanya nggak seberantakan ini." Kata-kata itu menghancurkan hatinya. Sejak hari itu, Raka berhenti bicara. Dia semakin menjauh, hingga suatu malam, dia pergi dan tak pernah kembali

More details
WpActionLinkContent Guidelines