We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
AIRA (Jatuh Cinta Sendiri)

AIRA (Jatuh Cinta Sendiri)

  • WpView
    Reads 45
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 26, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
BERDASARKAN KISAH NYATA PENULIS Halo panggil aja aku aira (ini adalah nama samaran ku). Maaf ini bukan cerita fiksi maupun, cerita komedi romantis. Dalam cerita ini hanyalah sepenggal kisah hidup ku ketika aku mencintai seseorang dan sampai saat ini belum bisa ku lupakan meski lama sudah tidak bertemu kembali. Dia adalah laki-laki yang ku temui di masa aku menginjak bangku putih abu-abu. Namun tak peduli seberapa besar aku mencintai dia, nyatanya aku hanya jatuh cinta sendiri.
All Rights Reserved
#31
romansasma
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bawa Aku Pulang (End)
  • Radithya : Warna-Warni Hubungan Tanpa Status [END]
  • Bandung, Aku, dan Cinta yang Tak Tuntas
  • Hati yang Membingungkan
  • Rasa Tanpa Nama
  • Unknown Love Story
  • Story Of School
  • Namanya Intan (TAMAT)
  • Tetaplah Bersamaku🌹 (pending sesaat)

By a True Story Tentang dua anak muda yang menghabiskan waktunya bersama di masa putih abu-abu. -- Ponselku bergetar. Layarnya menyala terang. Nama Widya muncul di sana. "Za. Belum tidur?" Tanyanya dalam pesan itu. Aku melirik jam yang terdapat di sudut kanan atas layar ponsel, mendapati kini sudah jam dua pagi. "Belum, kenapa, Wid?" Aku bertanya balik. "Temenin gue teleponan dong! Gue enggak bisa tidur, nih." Sebenarnya, walau berada di kamar, aku sedang sibuk bekerja dengan komputerku. Namun, sejak mengenalnya delapan tahun lalu, aku selalu saja tidak bisa menolak permintaannya. "Oke." Balasku singkat sebelum akhirnya ponselku berbunyi, ada telepon masuk darinya. "Masih kerja?" Terdengar suaranya di sebrang sana. "Udah selesai, kok." Aku terpaksa berbohong. Padahal, aku mengesampingkan pekerjaanku untuknya. "Kenapa? Kok susah tidur? Emangnya mikirin apaan?" "Enggak tau, nih. Akhir-akhir ini, rasanya susah banget tidur cepet." "Lu kebanyakan tidur siang kali? "Bisa jadi, sih. Soalnya gue tidur bangunnya agak siang. Hahaha. Omong-omong, gue ganggu, enggak?" "Ganggu? Enggak, kok." "Emang lu lagi di mana, Za?" Tanyanya. "Di kulkas." "Hahaha." Ia tertawa. Aku selalu suka mendengar tawanya. "Serius ih! Lu lagi di mana?" "Di rumah, Wid. Kenapa, sih?" "Gapapa, nanya aja." Balasnya. "Oh iya, selain kerja, lu sibuk apa lagi deh akhir-akhir ini, Za?" Tanyanya padaku. Entah apa jawabanku atas pertanyaan itu. Yang jelas, aku bicara dengannya cukup lama. Mulai dari membicarakan soal kesibukan selain pekerjaan, sampai akhirnya membicarakan masa-masa SMA, dulu. Iya, Widya adalah temanku saat masih SMA. Aku mengenalnya sejak delapan tahun lalu. Aku ingat bagaimana aku mulai mengenalnya waktu itu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines