Diculik Psikopat Tampan

Diculik Psikopat Tampan

  • WpView
    LECTURES 6
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication jeu., sept. 26, 2024
"Aduhh mati gue" sambil menepuk jidatnya "kok gue kaga sadar sih udh jam segini aja, aishh gue harus cepet balik" Sepanjang perjalanan Audrey Clay Smith merasa matanya sudah berat, ingin tidur. Namun kesialan datang pada Audrey, ban mobilnya bocor secara tiba-tiba. "Yahh bannya bocor, mana sepi lagi. Ihh jadi takutt" "Apa mesan taksi aja ya, nah boleh juga tuh" Saat ingin memesan taksi, Audrey mendengar ada suara seseorang minta tolong. Audrey mencari di mana sumber suara tersebut berasal. Tak disangka Audrey melihat seorang pemuda sedang kesakitan meminta tolong dan seorang pemuda berjaket hitam memegang pisau. Dapat Audrey lihat pemuda jaket hitam tersebut menoleh ke arahnya, segera Audrey bersembunyi agar tidak kelihatan. Dirasa sudah aman Audrey melihat pemuda yang kesakitan tadi sudah tak berbentuk. "Astagaaa i-itu ke-napa bisa be-begitu" batin Lily. "Ohh jadi Lo yg mata-matain gue, HAH" bentak pemuda berjaket hitam tadi. "Lo mau kayak dia, sini biar gue lakuin" lanjut pemuda itu. -Bagaimana kelanjutan dari kejadian tersebut? -Apakah kalian penasaran pada pemuda yang menculik Audrey si gadis yang sedikit polos itu? -Ayo ikuti keseruan dari karya pertama aku yaa.. Selamat membaca :)
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Preman Sekolah Jatuh Cinta (PINDAH KE DREAME)
  • • D I V I N E__ D E C R E E, FA T E •
  • The Ghost Remedy (JAEHAN YECHAN OMEGA X)
  • Legatha [END]
  • Aku & Kamu Kita
  • Say My Name
  • Take A Break
  • Beautiful Disaster
  • Little Girl : Love Story Begins [END]

Tepat di depan mata. Raiya seakan membeku disana, matanya nggak terlepas dari mobil yang baru saja terlempar tepat di depannya. Entah kenapa keadaan seolah semakin mendramatisir, hujan turun dengan derasnya sore itu, memadamkan api yang berasal dari ledakan mobil di depannya. Suara sirine ambulans saling bersautan dengan suara sirine mobil polisi, keadaan semakin kacau. Beruntung, yah Raiya bersyukur seseorang yang berada di dalam mobil itu sudah diselamatkan sebelum mobil meledak. Dan seketika itu pula, tubuh Raiya langsung limbung terjatuh begitu saja, isakan tangisnya semakin jelas terdengar meski di bawah guyuran hujan. Satu patah kata pun nggak bisa terucap, ingin sekali dia menghampirinya yang sudah berada di mobil ambulans, tapi kakinya masih saja membeku di tempat. Hanya sesak yang terasa. "Kak Chi-ko ...." "Dia nggak akan kenapa-kenapa! Ayo Ray, gue anter pulang sekarang!" ajak paksa seseorang yang sudah berdiri sejak tadi di belakang Raiya, tapi Raiya hanya bergeming. Seseorang itu samasekali nggak menduga kalau hal semacam ini akan terjadi. Liontin yang ada di genggamannya seketika terlepas begitu melihat mobil lamborgini hitam yang sangat dia kenal terlempar begitu saja di depan Raiya. Dia dekap Raiya ke pelukannya, menatap nanar ke mobil yang sudah nggak berwujud itu. Hanya satu yang ada di pikirannya saat itu, penyesalan. "Kak Chiko, itu Kak Chiko, nggak, nggak, itu bukan Kak Chiko, pasti itu bukan Kak Chiko, dia bukan Kak Chiko!"

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu