Between Punches and Glances

Between Punches and Glances

  • WpView
    LECTURAS 341
  • WpVote
    Votos 35
  • WpPart
    Partes 10
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación dom, sep 21, 2025
WpInfo
Ficción
Romance
Niky pikir Jonathan itu terlalu dingin. Jonathan pikir Niky itu sok baik. Mereka sepakat dalam satu hal: gak ada satu pun dari mereka yang suka satu sama lain. Tapi semesta bilang lain. Ditempatkan dalam satu kelompok? Check. Duduk bersebelahan? Check. Dipaksa kerja bareng tiap minggu? Double check. Awalnya saling sindir, lama-lama saling lirik. Dari adu mulut jadi jantung deg-degan. Dan perlahan, kebencian itu mulai retak. Tatapan berubah. Nada suara melunak. Tapi tepat saat keduanya mulai bertanya pada diri sendiri: "Apa ini cinta?"-hidup mulai memberi ujian. Mungkin cinta bukan tentang saling cocok sejak awal. Tapi tentang dua orang yang cukup berani bertahan meski awalnya saling menyakiti. Karena cinta yang lahir dari kebencian... belum tentu bisa tumbuh tanpa luka.
Todos los derechos reservados
#439
mxm
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Nala dan Mas Juragan
  • Salah Status [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Kembang Desa
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Nakula

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido