1221 Daun Gugur

1221 Daun Gugur

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 14, 2024
1221 Daun Gugur adalah sebuah kumpulan puisi yang memuat denyut-denyut tersirat dari jiwa yang terperangkap di lorong-lorong renung. Di antara helai hari yang berguguran, kata-kata melayang seperti aroma kabut yang tak tersentuh, menenun makna-makna samar di ambang kesadaran. Setiap larik di sini adalah bisikan sunyi, getar halus dari hati yang mencari dirinya dalam bayang-bayang waktu. Bagaikan guratan takdir yang tertulis di atas lembaran yang usang, puisi-puisi ini mengalir seperti sungai sunyi yang tak pernah bertemu muara. Setiap kata yang terpilih seolah terjebak dalam paradoks antara hadir dan absen, sejenak menyentuh namun segera menjauh. Dalam setiap bait, tersimpan labirin perasaan yang kompleks, berlapis-lapis, yang mungkin hanya dapat dijangkau oleh jiwa yang bersedia tersesat dalam pemikiran mendalam. Di bawah remang-remang kesadaran, puisi-puisi ini menjadi cermin bagi perasaan yang tak pernah diucapkan, memantulkan bayangan diri yang tak selalu kita kenali. Dari kecamuk perasaan yang tak terdefinisi hingga heningnya kesendirian, setiap baris adalah langkah kecil di dalam perjalanan batin yang panjang-sebuah ziarah sunyi menuju entitas diri yang terus berubah dan terurai.
All Rights Reserved
#182
kumpulan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja di Bandung
  • Merayakan Perpisahan [Segera Terbit]
  • Hujan Membaca Isyarat (Kumpulan Cerita Pendek Karya @elynna_arsr)
  • Hujan Ingatan - Negeri Hujan Ingatan
  • 𝟗𝟎% 𝐋𝐮𝐤𝐚 [𝐎𝐧 𝐆𝐨𝐢𝐧𝐠]
  • Masih Ada Kamu di Setiap Luka [TAMAT]
  • Twilight in a Forgotten Era
  • Setapak Hitam Putih ✔ (SUDAH TERBIT)
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah

Dalam sekejap mata, kehidupan Senja berubah total. Seorang pemuda yang tumbuh dalam kehangatan keluarga sederhana, Senja menikmati hari-harinya diiringi oleh puisi-puisi ayahnya yang penuh kebijaksanaan. Namun, ketika sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa kedua orang tua dan adiknya, Senja harus menatap kenyataan pahit: ia yang tersisa, terperangkap dalam kesedihan dan kekosongan yang mendalam. Terjerumus dalam trauma dan duka, Senja merasa kehilangan arah dan tujuan hidup. Namun, di tengah gelapnya penderitaan, ia mendengar bisikan tentang Bandung-kota yang dipercaya sebagai "diciptakan Tuhan saat Tuhan tersenyum." Dengan sisa keberanian yang tersisa, ia memutuskan meninggalkan masa lalunya dan memulai perjalanan menuju Bandung, berharap menemukan secercah harapan dan penyembuhan bagi jiwanya. Di Bandung, Senja menemukan dunia yang berbeda, di mana sejarah dan seni berpadu dalam setiap sudut kota. Di tengah perjalanan itu, ia bertemu Arlana, seorang seniman jalanan dengan jiwa kritis yang mengerti bahasa keindahan dalam setiap goresan lukis dan nada gitar. Melalui pertemuan mereka, Senja mulai menulis kembali puisi-kata-kata yang dahulu menjadi warisan ayahnya. Setiap bait yang ia tulis adalah pengakuan atas luka yang dalam, sekaligus seruan untuk menemukan kembali arti hidup di balik kesedihan. "Senja di Bandung" adalah sebuah kisah yang mengangkat keindahan puisi sebagai penyembuh jiwa. Di antara deretan puisi yang mengalir, Senja dan Arlana menemukan bahwa setiap luka memiliki sajaknya sendiri, dan bahwa keindahan sering kali lahir dari penderitaan terdalam. Novel ini mengajak pembaca untuk merenungi bahwa meski hidup kerap dipenuhi kehilangan, dari kepedihan itu akan tumbuh harapan baru-sebuah perjalanan batin yang menuntun pada penerimaan diri dan keajaiban dari setiap kata yang terukir di dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines