1221 Daun Gugur

1221 Daun Gugur

  • WpView
    GELESEN 17
  • WpVote
    Stimmen 2
  • WpPart
    Teile 3
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Mo., Okt. 14, 2024
1221 Daun Gugur adalah sebuah kumpulan puisi yang memuat denyut-denyut tersirat dari jiwa yang terperangkap di lorong-lorong renung. Di antara helai hari yang berguguran, kata-kata melayang seperti aroma kabut yang tak tersentuh, menenun makna-makna samar di ambang kesadaran. Setiap larik di sini adalah bisikan sunyi, getar halus dari hati yang mencari dirinya dalam bayang-bayang waktu. Bagaikan guratan takdir yang tertulis di atas lembaran yang usang, puisi-puisi ini mengalir seperti sungai sunyi yang tak pernah bertemu muara. Setiap kata yang terpilih seolah terjebak dalam paradoks antara hadir dan absen, sejenak menyentuh namun segera menjauh. Dalam setiap bait, tersimpan labirin perasaan yang kompleks, berlapis-lapis, yang mungkin hanya dapat dijangkau oleh jiwa yang bersedia tersesat dalam pemikiran mendalam. Di bawah remang-remang kesadaran, puisi-puisi ini menjadi cermin bagi perasaan yang tak pernah diucapkan, memantulkan bayangan diri yang tak selalu kita kenali. Dari kecamuk perasaan yang tak terdefinisi hingga heningnya kesendirian, setiap baris adalah langkah kecil di dalam perjalanan batin yang panjang-sebuah ziarah sunyi menuju entitas diri yang terus berubah dan terurai.
Alle Rechte vorbehalten
#17
antalogi
WpChevronRight
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Nestapa [END]
  • Hujan Ingatan - Negeri Hujan Ingatan
  • Twilight in a Forgotten Era
  • Setelah Langit Berbisik
  • Coretan Rindu
  • Di Antara Kenangan dan Waktu (On Going)
  • Ruang Kosong di Antara Jingga
  • Setapak Hitam Putih ✔ (SUDAH TERBIT)
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah

Benar kata orang, cinta adalah hasrat suci yang penuh kegilaan. Seperti awan yang rela menjadi hujan. Layaknya pelita yang membiarkan dirinya terbakar atas nama pengorbanan. Selagi ada harapan, aku terus berjalan menapaki kedukaan hanya untuk tetap bisa menggenggam tangannya dan berkata, "Aku mencintaimu." *Adwithya Criselda Ararinda* Adwi, aku mengutukmu menjadi orang paling menyedihkan di dunia ini. Siapa saja saja yang mencintaimu akan ditimpa duka dan kehilangan. Kau akan berakhir dalam kemalangan. Sendirian. *Widyanatha Derkainka* TERSEDIA E-BOOK

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien