Pertahanan yang Hilang

Pertahanan yang Hilang

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 8, 2024
TEROR DI SEKOLAH!! "Sa, capek lari-larian terus kayak gini" ucap Jevan mengatur napasnya yang terasa engap. Mahesa, Jevan, Javen, Shaka, Sean, Juan dan Rico. Mereka bertujuh masih terus berlarian di gedung sekolah mereka, pasalnya hanya tersisa mereka dan beberapa anak lainnya yang dihitung mungkin hanya tersisa 15 anak, mereka yang tersisa, berlari dengan berpencar. "Iya, aku tau, kita semua juga capek lari, tapi.. gaada cara lain" ucap Mahesa pasrah, selain berlari, mereka tidak mungkin bisa selamat dari kejaran mereka, yang telah meneror sekolahnya. "Sa, bantuan dari polisi kapan datang?" Tanya Sean, kakinya sudah terlalu lemah untuk melanjutkan berlari. Mereka semua sudah berada diambang batas kelelahan. "Aku gatau, yang pasti kita harus tetep ngehindar dari dia, selama polisi belum datang.." balas Mahesa, lelah. Srekk. Suara gesekan pisau menyuara, menggesek dinding gedung sekolahnya, mereka lantas terdiam, berusaha tetap bersembunyi agar 'dia' tak tau keberadaan mereka. Selanjutnya.. Suara teriakan kencang seorang gadis berhasil menusuk telinga, setelahnya bau anyir menghiasi seluruh tempat di gedung sekolah tersebut. Mereka bertujuh meneguk ludah mereka masing-masing, rasa takut menerpa diri mereka, takut jika selanjutnya adalah salah satu diantara mereka bertujuh. "Janji untuk tetap bertujuh?" Tanya Mahesa secara tiba-tiba, membuat teman-temannya tercengang. "Kita selamanya akan tetap bertujuh sa!" Jawab Jevan, emosi. "Engga Jev, kita gaakan pernah bisa bertujuh lagi.." ucap Mahesa. "Maksudmu apa?!" "Jev, salah satu diantara kita mungkin harus ada yang pergi?" "Engga akan! Apa jangan-jangan kamu yang mau pergi?!" "Sa! Kita terus bertujuh! Sampe kapanpun! Paham?" Mahesa menghela napas panjang, tangan Jevan terbentang, mengisyaratkan pelukan. Mereka bertujuh akhirnya berpelukan, mungkin.. ini pelukan terakhir?. "Aku sayang kalian, tapi aku ga janji buat tetep di samping kalian.." ucap seseorang diantara mereka bertujuh. ~~ Baca and vote!!
All Rights Reserved
#14
korban
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • THE VIP : GOLDEN HIGH SCHOOL
  • TARTARUS (END)
  • 100%(on Going)
  • Bersaing atau Bersama? Pilih Satu!
  • Saranjana [END]
  • Black Out III
  • Kutukan Tumbal
  • Angel's Secret [Sudah Terbit]
  • Kelas A [End]

Sekolah. Sekedar ladel atau judul untuk bangunan yang menjulang tinggi yang menerima ratusan remaja yang katanya menuntut ilmu pendidikan. Apa itu sekolah? Yang ia tahu tempat ini adalah jelmaan neraka atau versi terbaru, kecilnya. "Lo!!! Benar-benar licik!!" Teriakan itu meledak ke udara penuh emosi yang tidak bisa di jelaskan. "Hahahaha." Tertawa menggema, palsu, dan nyaring. Tangan terangkat menghapus jejak air mata gaib, padahal tidak ada air mata yang turun dari netra cokelatnya, mata itu kering tangis itu hanya sandiwara. Tawanya padam secepat kilat, seketika wajah itu berubah serius, seolah tidak pernah mengenal tawa. "Thanks for the praising to me." Wajah yang tadinya tertawa ceria langsung tergantikan dengan wajah yang berubah dingin, bahkan aura mengintimidasi mencekam lawan. "Gue nggak suka basa-basi," katanya pelan tapi menusuk. "Keluar dari sekolah ini dan point nilai lo untuk gue! Atau......." Senyumnya miring dan beracun terukir. "Scandal lo gue sebar," tersenyum smirk. Menatap wajah gadis di depannya yang sudah pucat. "Lo ngancem gue??" Sebisa mungkin siswi bernama Velena itu terlihat berani. Ia tidak mau kelihatan takut di depan gadis dengan tai lalat di ujung mata kanannya itu. "No!" "Hanya memberikan saran," ujarnya santai." Saran gue ini bagus, nyelametin lo dari rasa malu, kedepannya."

More details
WpActionLinkContent Guidelines