Memori Terakhir

Memori Terakhir

  • WpView
    Reads 38
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Oct 8, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
"Aku merindukan kalian, aku ingin kembali berkumpul bersama seperti dulu, tapi ... sepertinya sulit ya?" ucap seorang wanita tua yang sedang berbaring lemah di atas kasur yang besar dan terlihat mewah, kedua tangannya memeluk erat sebingkai foto 4 orang gadis yang terlihat masih muda. Wanita itu menghela nafas dengan gemetar sambil memejamkan matanya, membiarkan air matanya yang sedari tadi membendung di tepian matanya mengalir membasahi pipinya. "Semoga ... kita dipertemukan kembali di kehidupan selanjutnya." Ucap wanita tua itu dengan lirih, bahkan terdengar seperti bisikan. Wanita tua itu menghela nafas dengan gemetar sekali lagi, sebelum akhirnya dia berhenti bernafas, benar, dia telah menghembuskan nafas terakhirnya malam itu, tepat pada pukul 03:00 dini hari.
All Rights Reserved
#11
memori
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Complete (END)
  • Stranger | Orine
  • Mémoire
  • Kamar Kosong 13 S2 [End] ✓
  • DUNIA FLORA
  • 40 day's

"Ya, kau tidak punya mata? Lihat, buku ku jadi kotor!" Sosok yang sedang membersihkan seragamnya tersentak kaget mendengar pekikan tersebut. Matanya berkedip tidak percaya. Heol, jelas-jelas dia yang korban disini. Mengapa jadi dia yang di salahkan? Memberanikan diri, dengan perlahan dia menatap gadis bertopi di hadapannya itu. Seketika gadis berseragam sekolah itu menelan salivanya susah payah mendapati tatapan tajam di balik kacamata hitam tersebut, seakan siap menerkamnya saat ini juga. "J-jongsahamnida. Nde, aku yang salah," Yeri membungkuk dalam. Hanya cara ini yang terpikirkan olehnya. Yap. Gadis itu adalah Yeri baru saja pulang sekolah. Dia memutuskan untuk membeli minuman susu di tempat favoritnya sebelum pulang ke rumah. Tapi malah berakhir seperti ini. Joohyun menggeram kesal sambil melepas kacamatanya, mencoba menahan amarahnya yang siap meledak. "Aish, bisa-bisanya kau membuat ku kesal seperti ini," Hari pertamanya di kota kelahirannya saja sudah di sambut dengan hal seperti ini. Bagaimana kedepannya nanti?

More details
WpActionLinkContent Guidelines