Kita dan sastra

Kita dan sastra

  • WpView
    Reads 116
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 17, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Tagssastra
Di bawah rintik hujan yang lembut, kita bertemu tanpa rencana, berbincang layaknya dua sahabat lama yang bertemu kembali. Kata-kata mengalir, ringan dan hangat, seolah-olah langit turut merestui percakapan kita. Setiap tetes hujan seakan menjadi saksi perlahan-lahan hati kita yang mulai bersentuhan. Tanpa kita sadari, waktu berjalan dan perasaan tumbuh, mengakar di hati. Cinta hadir diam-diam, menyelinap di sela tawa dan cerita sederhana. Hari-hari berlalu, kita menjadi lebih dekat, lebih dalam. Akhirnya, cinta itu diakui, dan kita berdua terjun dalam kisah asmara yang indah. Namun, seperti hujan yang terkadang membawa badai, kisah cinta kita tak luput dari rintangan. Setiap tantangan yang datang, seperti badai yang mencoba meruntuhkan fondasi yang kita bangun, membuat kita bertanya-tanya: mengapa, setelah semua ini, cinta kita diuji? Mungkin karena cinta yang besar tak pernah berjalan tanpa aral, atau mungkin karena setiap hujan deras hanya akan memperkuat pelangi di ujungnya. Begitulah, kisah cinta kita; dimulai dari rintik hujan, dan kini menghadapi badai.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hujan Membaca Isyarat (Kumpulan Cerita Pendek Karya @elynna_arsr)
  • Love In The Rain
  • 𝐒𝐞𝐫𝐩𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐀𝐬𝐭𝐚𝐦𝐚𝐥𝐚│〚𝐓𝐀𝐌𝐀𝐓〛
  • Dibawah Langit Yang Retak (joongpond)
  • Haters and Lovers of Rain [END]
  • ZIELA
  • Love and Rain
  • Will You Be My Love Rain?

Dalam setiap tetes hujan, ada kisah yang gugur tanpa suara seperti rindu yang tak pernah sampai, atau luka yang tak ingin dikenang. Hujan Membaca Isyarat adalah ruang di mana kata-kata menjadi sisa embun yang jatuh perlahan ke hati pembaca. Judul ini tak sekadar metafora, melainkan kiasan dari bagaimana alam diam-diam memahami kegelisahan manusia, lebih peka dari siapa pun yang pernah berjanji tak akan pergi. Hujan bukan hanya peristiwa cuaca, melainkan simbol yang menghidupkan kembali percakapan yang tak selesai, janji-janji yang menguap, dan isyarat yang tak pernah dimengerti saat pertama kali datang. Dalam setiap cerita, terdapat lapisan emosi yang lembap, getir, namun indah seperti jalanan basah yang menyimpan jejak langkah seseorang yang tak kembali. Alasan mengapa Hujan Membaca Isyarat menjadi judul utama bukan sekadar karena hujan selalu romantis atau sendu, tapi karena ia setia datang tanpa harus diminta, lalu menyentuh tanpa pernah memeluk seperti kenangan dalam cerita-cerita ini. Isyarat adalah bahasa rahasia, tersembunyi di balik tatapan, jeda, dan diam. Maka saat hujan "membaca", ia bukan sekadar membasahi tanah, tetapi mengurai hal-hal yang tak sempat diucap. Dalam rintiknya yang tenang, ia seperti menggambar ulang percakapan yang nyaris hilang: antara ayah dan anak, kekasih yang lupa arah, sahabat yang menjauh, hingga diri sendiri yang tak pernah selesai dicintai. Di sinilah hujan menjadi peramal kesedihan, pembisik rahasia, dan saksi atas segala yang tak pernah tuntas. Sebab tak semua kisah harus lantang. Kadang, cukup satu isyarat dari langit dan kita tahu, ada hati yang masih bergetar dalam diam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines