Rumah Runtuh

Rumah Runtuh

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 6, 2024
Mereka sebut 'cemara', mereka sebut 'cinta pertama', dan mereka panggil 'ayah'. Namun, apa itu cemara? bukankah itu hanya omong kosong belaka? bukankah itu hanya rekayasa? Lalu, apa itu cinta pertama? Lantas, siapa pula Ayah? bukankah Ayah hanyalah sosok tak berhati yang menghancurkan Bunda? sosok jahat tak berperasaan yang dengan tega membuat Bunda hancur hingga berkeping-keping? Ayah, anakmu ini tak pernah membencimu, tapi aku benci dengan perlakuanmu terhadap Bunda. Bunda dunia ku, dan dengan tega kau menghancurkan dunia ku? betapa kejamnya engkau, Ayah. "Bunda, sampai kapanpun aku tak akan memaafkan makhluk tak berperasaan itu!"
All Rights Reserved
#571
perselingkuhan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • Luka Yang Tak Bisa Bicara
  • ANGEL (END)
  • Menyerah atau Bertahan?
  • Lara di hati Rain (𝐓𝐄𝐑𝐁𝐈𝐓)
  • Hidden Scars ✓
  • Gadis Kecil Ayah [SUDAH TERBIT]
  • AIRA [On Going]
  • Tunggu Aku Sampai Badai Usai (Sudah Terbit Ebook)
  • The Quiet Orchestra

Di sebuah rumah yang lebih sering berisik oleh bentakan daripada tawa, tiga anak tumbuh dari puing-puing cinta yang retak. Ara, si sulung yang belajar menjadi atap saat bapaknya lebih sering pergi ketimbang tinggal. Rei, anak tengah yang mencoba menjadi lelaki tanpa pernah punya contoh. Dan Zea, si bungsu yang bersembunyi di balik boneka bermata satu sambil bertanya dalam hati: "Apa semua rumah seperti ini?" Saat rumah yang dulu mereka sebut "pulang" tak lagi memberi tempat, satu per satu dari mereka harus memilih: tinggal dalam reruntuhan, atau membangun sendiri pondasi baru-meski dengan tangan gemetar. Ini bukan kisah keluarga yang sempurna. Ini kisah tentang bertahan meski tidak utuh, tentang anak-anak yang tak ingin mewarisi luka orang tuanya. Dan tentang keberanian untuk berkata: "Ledakan itu berhenti di sini." Karena tumbuh dari kehancuran... bukan alasan untuk mencintai dengan cara yang menyakitkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines