Rintik Hujan (Kumpulan Cerpen)

Rintik Hujan (Kumpulan Cerpen)

  • WpView
    Reads 34
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 10, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
"Rintik Hujan" adalah sebuah perjalanan di bawah langit yang penuh rahasia, di mana setiap tetes hujan menuturkan kisah-kisah sederhana yang kaya makna. Dalam setiap cerita, hujan hadir bukan hanya sebagai suara lembut yang mengalun, tetapi juga sebagai saksi bisu perjalanan hati yang tak terucap. Melalui lembar demi lembar, pembaca akan diajak menyelami perasaan yang terpendam, seakan mendengar bisikan antara rintik yang jatuh dan desah angin. Dari sudut-sudut kota yang basah hingga jalan setapak yang sepi, setiap narasi adalah sajak yang merayakan cinta, kehilangan dan harapan. Setiap tokoh dalam "Rintik Hujan" melangkah dalam tarian yang lembut, terjebak antara waktu dan kenangan, di mana hujan adalah pengingat bahwa meski hidup terkadang penuh gejolak, ada keindahan dalam kesederhanaan. Seperti payung yang menampung air, mereka menampung cerita yang tak terlupakan, menjadikannya abadi dalam bingkai rasa.
All Rights Reserved
#809
sunyi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Louisa (SUDAH TERBIT)
  • Haters and Lovers of Rain [END]
  • Sudah September
  • PLUVIOPHILE || The Reason I Like Rain? [ON GOING]
  • Hujan Membaca Isyarat (Kumpulan Cerita Pendek Karya @elynna_arsr)
  • SUMMER RAINβœ”
  • Rain-A
  • Behind the Chill of the Night Wind
  • Temporary |End|

(+16 For Blood) Berbekal kemampuan yang ia benci. Louisa dengan segenap bara api di dada, menyusuri setetes demi tetes darah yang tumpah; menghitung satu per satu kepala yang tergolek membusuk; melafalkan setiap nama dari serigala yang merenggut anak domba. Tanpa terkecuali. . . . Louisa tak ingat hari itu tanggal berapa, bulan berapa, ataupun tahun keberapa. Hanya yang jelas kala itu awan mendung kehitaman, kemudian petir menyusul sambil menari-nari dari barat ke timur. Aroma rumput terbakar memenuhi indra penciumannya, termasuk bau lemak panas, dan kayu bakar. Kesadaran yang kian menghilang tak menyurutkan sorot penuh murka dari dua bola mata keunguan Louisa. Menatap selayaknya singa kepada orang-orang yang tertawa di tengah gegap gempita pesta mengerikan. Memakan setiap inci malaikat-malaikat kecilnya, meneguk segelas minuman merah memabukkan, merobek wajah-wajah manis penuh kasih dengan kuku-kuku setajam pisau daging. Perempuan itu di sana. Pada batang kayu ia terikat kuat rantai besi panas, ditemani jilatan api mengelus-elus permukaan kulit di bawah. Menyaksikan kengerian yang menghancurkan jiwa manusianya. Bersumpah menagih hutang darah dengan nyawa. #DeanArian25/10/2021 #HakCiptaDilindungiUndang-Undang #salamwritingmarathon #challengemenulisbersama_tim3

More details
WpActionLinkContent Guidelines