Riuh
  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Oct 18, 2024
"Rumit rasanya jika harus sesuai ekspektasi" Cerita ini mengajak pembaca menyelami kerumitan pikiran seseorang, di mana setiap detik dipenuhi oleh pertanyaan dan perdebatan batin yang tiada henti. Dalam tiap babnya, pikiran itu menjadi arena pergulatan antara keyakinan dan keraguan, antara logika dan emosi, antara harapan dan ketakutan. Riuh yang tak pernah sunyi ini menggambarkan bagaimana suara-suara di kepala terus bergema, menggoyahkan pijakan dan memaksa untuk mencari makna di balik setiap keraguan. Cerita ini juga mengajak pembaca menelusuri labirin pemikiran yang terus berputar, memaknai hidup dengan segala ketidakpastian nya, dan menerima bahwa riuhnya pikiran adalah bagian dari perjalanan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri. Setiap pertanyaan yang hadir mungkin tak selalu menemukan jawabannya, namun di sanalah letak kekuatan novel ini menggambarkan kehidupan sebagai ruang diskusi tanpa akhir. --- Mari menenggelami isi pikiran yang tak pernah berhenti menyalahi diri. Setelah itu, berdamai dengan segala ketidak sesuaian dengan beberapa keinginan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Riuh Dalam Sunyi
  • Meneroka Jiwa
  • Happy Ending
  • Meneroka Jiwa 2
  • PESTA SUNYI (TERBIT)
  • Terperangkap dalam Diri
  • Narasi patah hati
  • DEAR RAGA

Aluna hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi yang tak berujung. Orang tuanya menuntut kesempurnaan, lingkungannya memujinya sebagai sosok ideal, tetapi di dalam dirinya, Aluna merasa rapuh. Setiap langkahnya bagai napas yang terhenti, takut akan kesalahan yang bisa mencoreng nama baik keluarganya. Namun, di balik semua itu, ada luka yang tak pernah sembuh, kerinduan pada kebebasan yang hanya bisa ia temukan dalam sunyi. Di sekolah, Aluna dihadapkan pada konflik dengan teman-temannya, yang perlahan-lahan membuka mata bahwa dunia tidak sehitam putih yang ia bayangkan. Di rumah, hubungan dengan keluarganya perlahan retak ketika ambisi orang tua mulai mengorbankan perasaan dan mimpinya sendiri. Ketika Aluna mulai mempertanyakan apa arti bahagia, ia dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dalam riuh yang menyakitkan atau melepaskan segalanya untuk menemukan sunyi yang menenangkan. Namun, apakah ia cukup kuat untuk melawan? Ataukah ia hanya akan menjadi seorang gadis yang tenggelam dalam ekspektasi, tanpa pernah benar-benar menemukan dirinya sendiri?

More details
WpActionLinkContent Guidelines