25 parts Ongoing "Saya akan bertanggung jawab... dengan menikahinya," kata Farhan pelan dari seberang telepon. Lalu, ia menyerahkan ponsel itu pada Adrian.
"S-sa... saya juga akan menikahinya," suara Adrian terdengar gugup, napasnya seperti tertahan.
Keesokan harinya suara akad nikah bergema di dalam masjid.
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan," ucap Farhan mantap.
Disusul Adrian yang terdengar terbata, "Qo... qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan."
Dua suara lelaki itu menggema di antara dinding-dinding rumah Allah. Tapi di ruangan lain, dua hati perempuan menangis dalam diam.
"Kenapa hidup kami harus begini... menikah dengan orang yang bahkan gak kami cintai," batin Tiara sambil menunduk. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi cadar yang ia pakai.
"Ra, gue gak mau nikah... gue masih pengen sekolah, masih pengen bebas," ucap Kiara dengan suara bergetar. Ia menggenggam tangan Tiara erat-erat.
"Ki... aku juga gak mau. Tapi ini takdir kita," jawab Tiara pelan. Ia usap air mata Kiara sambil menahan tangisnya sendiri. "Kita harus kuat, ya."
Ini kisah tentang dua saudari yang harus menjalani pernikahan tanpa cinta.
Bisakah cinta tumbuh dari keterpaksaan?
Atau justru semuanya akan runtuh dan menyisakan luka?