Angelica Agent

Angelica Agent

  • WpView
    Reads 113
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadComplete Fri, Oct 25, 2024
Frederick van Lempung duduk bersandar di bawah pohon ek tua, daunnya yang lebat memberikan naungan dari terik matahari. Udara di sekelilingnya terasa tenang, hanya diiringi oleh semilir angin yang membawa aroma tanah kering dan rerumputan liar yang menyebar di sepanjang padang. Di kejauhan, suara sungai kecil yang mengalir membelah lembah menciptakan ritme yang nyaris tak terdengar, tetapi cukup untuk melengkapi ketenangan hari itu. Di sekeliling Frederick, padang hijau membentang sejauh mata memandang, menyelimuti lanskap perbukitan lembut yang berujung pada kaki pegunungan yang membiru di kejauhan. Udara segar dari pegunungan itu perlahan merayap turun, membuat suasana semakin nyaman. Hanya satu atau dua burung elang terbang melayang tinggi di atas, melingkari angkasa dengan sayap mereka yang membentang lebar. Di depannya, tergeletak senapan panjang berlaras halus, yang bersinar dalam cahaya matahari yang menerobos celah-celah dedaunan. Dengan telaten, Frederick membersihkan setiap inci dari senjatanya itu, gerakan tangannya perlahan namun presisi, seolah senjata itu bagian dari dirinya. Setiap bagian kecil dirawat dengan penuh perhatian, kain pembersih menyapu pelan sepanjang laras dan ruang peluru. Matanya fokus, tajam dan tenang, seperti binatang pemangsa yang sedang menunggu mangsanya. Di sebelah kanannya, secangkir kopi hitam mengepul pelan. Aromanya membaur sempurna dengan udara sejuk yang membawa sedikit bau embun dari rerumputan. Sesekali, Frederick berhenti sejenak dari pekerjaannya, mengangkat cangkir itu, dan menyeruput pelan isinya. Kopi itu pahit, seperti biasa, tapi justru itulah yang dia sukai. Rasanya sederhana, tidak banyak gangguan, hanya kekuatan yang murni. Sama seperti hidup yang dia pilih-kesederhanaan dalam fokus, tanpa gangguan emosi atau kemewahan yang tak perlu.
All Rights Reserved
#510
politik
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hujan di Malam Hari✔
  • Bayangan di Balik Kabut
  • MAWAR DARAH & HALILINTAR BIRU (TAMAT)
  • Tentang Zoya (HARQEEL)
  • Lightshadow
  • Petunia
  • ANDARE
  • AETHER : Selena
  • Lain Dunia (Tamat)

[Lengkap] [Revisi] [SELESAI] Di tengah hujan, lelaki itu menjadi pahlawan menggerakkan semua pasukan. Darah dan erangan musuh menyatu menjadi kalimat yang sukar diceritakan. Layaknya lakon dari pewayangan, Ia menghancurkan kedurjanaan walaupun darahnya hitam. Malam tanpa bintang menaungi perang saudara. Perang antara kesalahpahaman yang nyata. Lelaki yang menganggap dirinya pandawa padahal kurawa akibat sengkuni yang bersembunyi dalam selimut kesetiakawanan. catatan : ini hanya cerita fiksi dari khayalan yang saya buat berdasarkan latar sejarah. Peranan tokoh disini tidak mewakili sifat dari tokoh sejarah aslinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines