Beban Tanpa Suara

Beban Tanpa Suara

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 10, 2024
Sejak kecil, Raka, anak bungsu dalam keluarganya, selalu berada di bawah bayang-bayang ambisi dan harapan besar dari orang tua dan saudara-saudaranya. Setiap langkahnya terasa seperti beban yang tidak terlihat-tuntutan untuk berprestasi di sekolah, mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, dan memenuhi cita-cita yang bukan miliknya. Meskipun senyumnya seringkali tampak ceria di hadapan orang lain, di dalam hati ia terperangkap dalam kerinduan akan kebebasan dan identitasnya sendiri. Taraka merasa seperti boneka yang dikendalikan oleh tali-tali yang terbuat dari harapan orang lain, tak pernah bisa bersuara atau menolak, dan setiap pencapaian hanya menambah berat beban yang ia pikul. Ketidakmampuannya untuk mengekspresikan perasaan membuatnya semakin terasing, seolah ia berjalan di jalan yang ditentukan orang lain tanpa kesempatan untuk memilih arah hidupnya sendiri.
All Rights Reserved
#1
pencapaian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MEMELUK LUKA [END]
  • Impian Putra Pak Ketua Komite [TAMAT]
  • GISTARA (TERBIT)
  • When I'm With You (SUDAH TERBIT)
  • Keluarga Cemara-Cemaraan

Menjadi anak terakhir sekaligus satu-satunya perempuan dalam keluarga memang tidak mudah bagi Alea. Sejak kecil, ia tumbuh dengan beban yang diam-diam menghantuinya-beban harapan besar yang diletakkan di pundaknya oleh orang tua dan kakaknya. Mereka melihatnya sebagai harapan terakhir keluarga, seseorang yang harus bisa melampaui pencapaian ayah, bunda, dan abangnya. Ekspektasi itu begitu tinggi hingga terkadang membuat Alea merasa sesak. Setiap langkah yang ia ambil seolah diawasi, setiap keputusan yang ia buat harus dipertimbangkan dengan matang agar tidak mengecewakan mereka. Ia harus menjadi lebih baik, lebih sukses, lebih segalanya. Namun, di balik semua itu, ada ketakutan yang terus menghantuinya yaitu kegagalan, takut mengecewakan, takut tidak menjadi seperti yang mereka harapkan. Terlalu sering ia memilih diam daripada mengungkapkan perasaannya. Luka-luka yang ia terima tidak selalu tampak di permukaan, tetapi mengendap jauh di dalam hati. Ia belajar untuk menyembunyikan lelahnya, menyimpan resahnya sendiri, dan terus berusaha sekuat mungkin untuk menjadi versi terbaik yang diinginkan keluarganya. #1 Melawanrestu #1 Anakterakhir #2 Bedakeyakinan #2 Alea #2 Pendidikan

More details
WpActionLinkContent Guidelines