Rumit : Mengejar Kupu-kupu

Rumit : Mengejar Kupu-kupu

  • WpView
    Membaca 156
  • WpVote
    Vote 18
  • WpPart
    Bab 10
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Rab, Okt 16, 2024
Sinopsis : Novel ini mengisahkan tentang sebuah konflik rumit yang muncul di tengah-tengah sebuah persahabatan. Kisah rumit kedelapan sahabat ini, lebih menonjol ke konflik percintaan yang sangat amat rumit bagi mereka. Mereka-mereka adalah gadis kupu-kupu di pandangan orang-orang. Kisah percintaan mereka sangat rumit dengan cerita yang berbeda. Konflik-konflik rumit atau drama aneh yang sering mendatangi mereka, membuat mereka harus bertahan dalam fondasi tinggi yang hampir jatuh meruntuhkah semuanya. Para gadis-gadis ini tak pernah menyerah. Mereka terus berusaha untuk membenarkan segala sesuatu yang sulit bagi mereka, agar berhasil memusnahakan kisah rumit yang terus mereka lalui. Tapi menurut pikiran dewasa mereka, cinta itu rumit, tapi rumit itu yang buat hidup mereka lebih seru. Tetapi apakah kisah cinta mereka yang rumit ini dapat menghancurkan rasa kebersamaan? Seperti rasa persahabatan, dan rasa kekeluargaan mereka terhadap satu sama lain? Dan apakah kisah cinta mereka yang rumit itu, dapatkah mereka ubah menjadi kisah yang sempurna? Silahkan membaca! A story by Saputra Benu.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#30
pelajaran
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Sunyi yang Menyatukan
  • The PRINCESS diaries 🎀 ( on going )
  • Bumblebee {Nohyuck} Going To Season 2
  • It HURTS
  • Menghitung Hujan (Markhyuck)

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan