PENGORBANAN LILIANA

PENGORBANAN LILIANA

  • WpView
    Membaca 154
  • WpVote
    Vote 52
  • WpPart
    Bab 18
WpMetadataReadDewasaLengkap Sel, Okt 15, 2024
Malam itu, suara hujan deras menjadi latar dari kegelapan yang melingkupi sebuah kota kecil di tepi bukit. Di sebuah rumah tua dengan jendela-jendela yang mulai lapuk, Liliana Aurelia Aurita menatap keluar jendela kamarnya, mengamati titik-titik air yang menetes tanpa henti. Pikirannya terperangkap dalam masa lalu, dalam kenangan yang menjerat dirinya ke dalam pusaran rasa bersalah. Liliana menggenggam erat sebuah surat tua yang sudah lusuh, surat terakhir dari adiknya yang hilang secara misterius dua tahun yang lalu. Mata hazelnya penuh dengan bayang-bayang kesedihan. Tidak ada yang tahu ke mana adiknya pergi, namun dalam hatinya, Liliana selalu merasa sesuatu yang lebih kelam terjadi malam itu. Suara pintu depan berderit membuatnya tersentak. Ia berbalik dengan cepat, namun ketika sampai di pintu, hanya angin dingin yang menyambutnya. Seperti ada yang diam-diam mengamati, tetapi tidak pernah menampakkan diri. Sebuah rahasia mengelilingi keluarga mereka, dan Liliana tahu bahwa ia harus mengungkapnya, meskipun itu berarti menghadapi kebenaran yang tidak ingin ia temukan. Malam itu menjadi awal dari sebuah perjalanan yang akan membawa Liliana ke dalam jalinan misteri, pengkhianatan, dan kehilangan yang lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. up..up..up ya sengg
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • "Bisikan Senior di Lorong Sunyi"
  • Why Us? (Terbit)
  • No Time To Die
  • Siapa Arabell?   [Tahap Revisi]
  • Mantra Penghancur Moral
  • setangkai mawar di musim dingin
  • LANGIT DI BALIK JENDELA
  • Misteri Rumah Tua
  • Koridor Sekolah ✔ ||  (TELAH TERBIT) ||
  • CEYRON ALLISTAIR

Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan