Antara Doa & Takdir-Nya

Antara Doa & Takdir-Nya

  • WpView
    LECTURES 252
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Chapitres 5
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mer., août 19, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Squeel : Jalan Takdir-Nya Supaya kalian tidak bingung dengan alur ceritanya, kalian bisa baca perjalanan cerita Alfiya di "Jalan Takdir-Nya" Di tengah perjuangannya menjalani kehidupan, ada satu hal yang tak pernah ia sadari namanya telah berulang kali disebut dalam doa seseorang di sepertiga malam. Doa yang diam-diam mengetuk langit, mengalir tanpa henti, dan menjadi bagian dari takdir yang Allah tuliskan untuknya. Apakah takdir akan menjawab doa itu dengan cara yang ia harapkan? Ataukah Allah telah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih indah dari apa yang ia bayangkan? #Doa #Takdir #cintadalamdiam #cool #azka #alfiya #muslimah ___________________ #Cerita ini murni dari imajinasi penulis, jika ada kesamaan dalam latar, alur dan tokoh nya. Itu murni ketidaksengajaan dari penulisnya.
Tous Droits Réservés
#193
religi
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Ternyata Takdirku adalah Kamu
  • Tertulis Dalam Doa
  • Takdir Dalam Do'a
  • Doa Yang Tak sama | END
  • RINTIK TEMU [END]
  • Satu Nama dalam Doa Malamku [TAMAT]
  • Di Sepertiga Malamku

JANGAN LUPA FOLLOW YA... terimakasih sudah mampir Ada cinta yang tidak perlu diumbar, cukup diam-diam mendoakan dari kejauhan. Karena kadang, mencintai yang paling dalam adalah saat memilih untuk menjauh. Aku, Cilla, gadis biasa yang sebentar lagi akan memulai hidup baru di UIN Rafah. Di usia delapan belas ini, hidupku seperti perjalanan kereta yang tak pernah berhenti di stasiun yang sama dua kali. Termasuk stasiun bernama Arsan. Dia pernah singgah. Pernah menjadi alasan senyumku setiap pagi. Pernah menjadi orang yang paling aku percaya. Tapi kami memilih pergi. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena tahu: terlalu dekat bisa membuat segalanya salah arah. Kami memilih menjaga, meski harus saling menjauh. Dan kini, setelah waktu membawa kami ke dunia yang berbeda... Aku masih menyebut namanya dalam sujud terakhirku. Sementara aku tak tahu, apakah dia juga menyebut namaku saat langitnya mendung dan hatinya sunyi. Mungkin kami sedang menguji takdir. Atau... mungkin takdir sedang menguji kami. Karena jika benar cinta ini suci, maka tak perlu digenggam erat untuk dimiliki. Cukup dipercayakan kepada Allah. Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya, aku ingin bertanya satu hal: "Masihkah kamu menganggapku takdirmu, seperti dulu?"

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu