Homo Sapiens

Homo Sapiens

  • WpView
    Reads 47
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Wed, Oct 16, 2024
Di tengah gemerlap kota yang tak pernah tidur, seorang individu terseret dalam rutinitas harian yang hampa, menjalani hidup seperti aktor dalam lakon tanpa penonton. Hari-harinya bergulir tanpa arah, sementara pikiran-pikirannya dipenuhi pertanyaan yang berputar tanpa ujung. Ketika malam datang, ia terjebak dalam dialog batin yang menggugah, di mana kehidupan dan kematian seolah hanya dua sisi dari absurditas yang sama. Di ambang keraguan dan rasa asing terhadap eksistensinya sendiri, ia berhadapan dengan pilihan-pilihan paling sunyi. Mencari makna dalam kekosongan, ia perlahan terseret menuju kesadaran yang tidak mudah didefinisikan-sebuah kesadaran yang mungkin membawa penerimaan, atau justru pemberontakan. Namun, di sepanjang perjalanannya, ia menyadari bahwa kadang-kadang, jawaban terbesar datang bukan dari menemukan makna, tetapi dari perjalanan memahami keberadaan itu sendiri.
Creative Commons (CC) Attribution
#6
absurdism
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Larasati- Napas Dari Masa Lalu
  • Iyrin: Di Balik Sayap dan Bisikan
  • Jejak Sunyi Wira
  • To the Happy Ending✓
  • ALZEA (TERBIT)
  • KETURUNAN ANGGORO (New Version)
  • Pangeran Kegelapan

"Ada napas yang tertinggal di masa lalu. Larasati hanya perlu mendengarkannya." Larasati selalu merasa asing di dunia yang ia pijak-seperti ia pernah hidup di tempat yang berbeda, pada waktu yang tak bisa dijelaskan. Dalam diamnya, ia menyalakan lilin... dan dari nyala itu, masa lalu mulai berbicara. Suara-suara dari kehidupan sebelumnya datang perlahan: tentang seorang tabib wanita yang merawat bayi dan jiwa manusia, tentang putri seorang Tumenggung yang tak pernah dikenang sejarah, dan tentang lelaki bernama Raka yang jiwanya terasa begitu akrab. Saat ingatan mulai terungkap satu demi satu, Larasati harus memilih: melupakan semuanya... atau mengikuti bisikan yang menuntunnya pulang. Larasati: "Raka, aku merasa ada yang lebih dari sekadar lilin ini. Sepertinya, mereka membawa sesuatu yang lebih dalam... sesuatu dari masa lalu." Raka: "Aku merasakannya juga. Seperti kita pernah terhubung, meski kita tidak tahu bagaimana."

More details
WpActionLinkContent Guidelines