Take Me Back!

Take Me Back!

  • WpView
    Reads 604,857
  • WpVote
    Votes 32,151
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 15, 2025
Sebuah tulus yang dibalas khianat. *** Orang bilang, Skaya sudah gila. Karena terus menerus mengejar Nathan selama tiga tahun berturut-turut, apalagi memaksa Nathan agar menerima dirinya. Padahal sikap Nathan sangat kasar pada Skaya. Namun usaha nya tidak mengkhianati hasil, Skaya sangat bahagia ketika Nathan membalas perasaannya. Akhirnya mereka pun berpacaran, tapi tak lama Nathan berselingkuh dengan murid baru, dan Nathan mengumumkannya tepat ketika pesta hari ulang tahun Skaya. Skaya kecewa, ia pun mengendarai mobil ugal-ugalan dan mengalami kecelakaan tunggal, sebelum kesadarannya hilang ia mendengar teriakan seseorang. Itu Gavin. Laki-laki yang selalu ia tolak, dan selalu ia maki-maki. Di detik-detik terakhirnya mengapa hanya Gavin yang peduli padanya? Tolong, bawa ia kembali! Skaya bersumpah, jika ia diberi kesempatan kedua ia akan membuat Nathan menyesal seumur hidup! story by dzaasna
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Elegi Rasa : Pergi
  • Tolong Ajarkan Aku (END)
  • KIATHAN [END✔]
  • NERD GIRL [TAMAT]
  • Arsyilazka
  • I'm Not A Villainess
  • ALDRIC [END]
  • Daniel Owns Me

Kadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti dipermainkan rasa. Nila yang tak mau melihat. Dan Bianca yang pergi pada sesuatu yang tak terlihat. Ketika sepi melanda. Bukannya pada dunia yang luas, hanya pada dunianya sendiri yang tiba-tiba runtuh. Safir merasa begitu buruk di mata Bianca. Merasa begitu lelah di hadapan Nila. Dan malam itu, harusnya ia berusaha lebih keras. Saat si gadis berkata, "Aku pamit pulang, ya." Harusnya Safir membujuk lebih tegas. "Biar aku yang antar." Kenyataannya, Safir menjadi begitu terlambat. Saat rasa itu mulai tertambat. Hatinya justru sakit tanpa ada yang membebat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines