Rumah Yang Tak Lagi Nyaman

Rumah Yang Tak Lagi Nyaman

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 23, 2024
Memang benar kata orang, hidup itu seperti roda yang berputar. Dahulu kehidupanku sangat bahagia dengan mereka, kukira selamanya akan begitu. Tetapi semua berubah dalam sekejap, dimana mereka yang dulu begitu menyayangiku? Dimana sifat lembut dan tatapan teduh mereka? Mengapa semua orang dewasa tidak memikirkan akibat dari perbuatan mereka? Seharusnya tatapan teduh ayah hanya untukku bukan untuk anak lain. Seharusnya pujian dan kata kata manis yang ayah ucapkan itu hanya untukku. Dan seharusnya ada ibu disini yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Dimana ibu sekarang? Apa yang ibu lakukan sekarang? Apa ibu sudah bahagia? Dulu yang kupikirkan adalah besuk kita akan jalan jalan kemana? Apa yang akan kita lakukan untuk menghabiskan waktu pada hari minggu? Sekarang yang aku mau hanyalah bisa kembali ke masa lalu, saat ayah dan ibu masih seperti dulu.
All Rights Reserved
#128
dimas
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Paradise
  • Edelweiss Gugur di Musim Semi
  • Allah, Masihkah Kau Bersamaku? [Telah Terbit]
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Menyerah atau Bertahan?
  • ONLY HOPE  (The End)
  • Memorable
  • Eliinaa
Paradise

(SUDAH TERBIT) PESAN DI SHOPEE LOVELYMEDIA. "Lihat saudaramu yang lain! Mereka berprestasi! Tidak buat onar! Membanggakan orang tua!" Baginya yang terbiasa dibandingkan dengan saudara sendiri, mendengar perkataan itu tak lagi menimbulkan sakit meski sesekali menangis dalam diam. "Woi cupu! Beresin nih sekalian buang sampahnya. Awas aja lo masih bisa santai disini." "Orang kayak lo emang pantes dapet temen?" "Makanya gak usah belagu! Dasar babu!" Lambat laun perkataan mereka tak lagi berefek pada hatinya, apa ini? Apakah ini yang disebut mati rasa? Ternyata ... setelah mati rasa pun ia tetap merasakan pahit yang sulit dijelaskan. Mengapa begitu banyak orang yang membencinya? Apa salahnya? Di mana letak kekurangannya? "Urus diri lo sendiri!" "Dasar manja!" "Qi, urusan abang bukan cuma kamu. Jangan egois." Ah, begitu. Ternyata di mata ketiga saudaranya pun ia terlihat manja dan menyusahkan. Bagaimana ini? Hatinya kini sudah pecah berkeping-keping, ia tak lagi merasakan dirinya sendiri. Harapannya ... sungguh sederhana, semoga kelak Ayah dan ketiga saudaranya dapat kembali menyayanginya. Semoga masa SMA-nya bisa seindah cerita novel yang ia baca. Semoga keinginan itu dapat ia rasakan sebelum ajal menjemputnya dengan paksa. .... Warning: violence, harsh word, bullying, suicide, etc. All picture from pinterest.

More details
WpActionLinkContent Guidelines